Selasa, 06 Mei 2014

Import Sapi Tanpa Kuota.."Hati-hati" Seperti pisau bermata dua

Dibebaskannya import sapi (tanpa dibatasi kuota) merupakan angin segar yang sangat ditunggu-tunggu para feedlotter di Indonesia setelah sebelumnya import sangat dibatasi. Kandang-kandang di feedlot "melompong" harga sapi melambung merupakan sebagian imbas dari pembatasan import sapi yang tanpa perhitungan demi sebuah kata Swasembada daging 2014. Inflasi yang disumbang dari meningkatnya harga daging sapi tidaklah kecil karena efek tersebut terjadi hampir diseluruh wilayah RI terutama sangat terasa di Jabodetabek.

Fenomena yang "anomali" adalah harga sapi didaerah (terutama Jatim) yang disebut-sebut sebagai salah satu sentra produksi sapi bahkan lebih tinggi dari daerah "konsumen" seperti Jabodetabek. Dari situasi ini saja sebenarnya sudah tergambar bahwa kita memang belum siap untuk swasembada sapi.

Kesadaran dari para pembuat kebijakan baru terbuka ketika dilakukan sensus oleh BPS ternyata populasi sapi disentra produksi seperti Jawa Timur menurun dari tahun sebelumnya akibat imbas dari diketatkannya ijin import sapi.

Saat ini import sapi sudah dibebaskan bahkan kalau bisa dianggap sudah berlebihan, kandang-kandang mulai full, feedlotter mulai bersaing secepatnya bisa menjual sapi agar bisa memasukkan lagi bakalan yang baru secara ijin import masih terbuka lebar, efeknya mereka mulai bersaing harga untuk bisa merebut pasar. Fenomena ini apabila tidak terkontrol bisa membuat harga jatuh dan efeknya harga sapi lokal juga akan jatuh yang ujung-ujungnya akan menjadi dilema bagi pemerintah karena banyak peternak kecil/petani yang akan teriak. So.....sudah saatnya pemerintah untuk turun kelapangan, tinjau situasi pasar dan kandang-kandang para peternak besar....berapa kebutuhan pasar? berapa stock yang tersedia? agar tidak "kebablasan".

Alangkah bijak kalau kita ambil jalan tengah, import sapi tetap "dibuka" tapi hanya sesuai "KEBUTUHAN" karena peternak kecil/petani ternak juga butuh HIDUP datangkan sapi-sapi indukan agar populasi indukan terus bertambah gulirkan program-program breeding semisal program sawit sapi yang dinegara tetangga kita sudah sukses dilakukan.

Tidak ada kata terlambat untuk terus berbenah, membenahi bisnis persapian memang butuh waktu tapi bukan hal yang mustahil untuk dilakukan dan pada saatnya bisa berswasembada.....bukankah mencegah lebih baik daripada mengobati???

Kamis, 13 September 2012

SAPI POTONG MAHAL??? LANTAS BAGAIMANA DENGAN SAPI UNTUK QURBAN???

Coba saat ini kita tanyakan ke jagal-jagal bagaimana kondisi "bisnis perjagalan" mereka, jawabannya tidak akan jauh-jauh dari lesu dan rugi, alasannya karena harga sapi yang terus naik sementara harga daging tidak bisa mengikutinya akibat daya beli masyarakat yang sudah "mentok". Saat ini satu-satunya usaha yang dilakukan para jagal adalah menjaga agar usahanya tetap jalan terus apapun yang terjadi karena "budaya" yang terlanjur sudah berkembang dikalangan mereka adalah budaya "hutang" dan "ikat-mengikat" ke para pelanggannya.
Apabila sehari saja tidak ada sapi yang dipotong maka akan berimbas tidak adanya setoran dari lapak daging, alias tidak ada pemasukan alias tidak ada cicilan hutang yang masuk....serba repot. Tetap bertahan potong sapi?? siap-siap rugi so...akhirnya jagal yang modalnya paling kuatlah yang akhirnya akan tetap mampu bertahan dan berharap semoga situasinya segera berubah.
Menyorot harga sapi yang semakin mahal, bagaimana dengan harga sapi untuk Qurban? tentunya akan jauh lebih mahal. Apabila diestimasikan selisihnya bisa 1 - 2 jt per ekor, dengan selisih harga seperti ini tentunya sangat menarik bagi pedagang spekulan sapi, sehingga saat ini di pasar-pasar hewan sudah mulai terlihat "rebutan" antara jagal dan pedagang/pengumpul sapi untuk dijual saat hari raya Qurban.....bersambung

Minggu, 10 Juni 2012

Ajang Pembuktian Menuju Swasembada Daging ???

Moment Puasa dan Lebaran sudah di depan mata dimana permintaan daging dan sapi akan melonjak tajam. Biasanya ketersediaan daging dan sapi sebagian dipenuhi dari tambahan kuota daging maupun sapi import namun untuk tahun ini sepertinya pemerintah tidak akan menambah quota import baik sapi maupun daging. Pemenuhan kebutuhan daging lebaran akan mengandalkan daging dari sapi lokal.
Kebijakan ini ditempuh karena adanya jaminan dari daerah daerah sentra sapi lokal yang menjamin bahwa ketersediaan sapi dan daging untuk lebaran dalam kondisi AMAN.Tampaknya pemerintah sedang melakukan "uji coba" menuju swasembada daging dan sapi yang telah "terlanjur" dicanangkan dan digembar gemborkan, semoga saja memang tidak meleset.
Tahun ini ada 2 moment pembuktian yaitu lebaran dan qurban, kita tunggu.........kemampuan supply sapi lokal kita menghadapi permintaan yang akan melonjak tinggi.

Selasa, 13 September 2011

SAPI MURAH...BINGUNG, MAHAL? ...LINGLUNG


Even puasa dan lebaran atau Idul Fitri sudah berlalu, kenaikan harga barang begitu terasa tak terkecuali komoditi sapi. Mulai awal puasa sampai setelah hari raya harga sapi terus merambat naik. Prediksi harga akan terus naik sampai menjelang Idul Adha atau hari Raya Qurban. Penghentian eksport sapi oleh Australia yang "hanya" berlangsung 1 (satu) bulan ternyata mulai menampakkan imbasnya. Disadari maupun tidak, sapi lokal mulai "tersedot" ke Jagal semenjak penghentian eksport tersebut.

Pada waktu harga sapi anjlok pemerintah (terutama pemda Jatim) dan masyarakat petani yang memelihara sapi bingung. Pemerintah bingung karena dituduh tidak mengontrol import sapi dari Australia ke Indonesia sehingga over supply, sementara petani bingung karena sapi yang dipeliharanya secara susah payah hampir setahun lebih ketika dijual malah merugi.

Saat ini ketika harga mulai naik dan terus naik, bahkan menjadikan banyak kalangan yang jadi linglung......kenapa? Petani linglung karena sapi sudah keburu dijual ketika harga anjlok sementara mau beli lagi sebagai "replacement" ternyata harga sudah keburu naik. Jagal linglung karena harga tinggi, potongan mulai merugi, sapipun makin susah dicari. Demikian pula feedlotter yang mengandalkan sapi lokal sebagai bahan bakunya, mulai linglung karena harga bakalan terus naik yang mau tidak mau tetap harus dibeli demi kelangsungan bisnis sapinya agar feedlotnya tetap eksis.

Bagaimana dengan pemerintah? pusat maupun daerah? nampaknya belum ada langkah konkret dalam menyikapi perkembangan harga sapi sampai saat ini, sementara Australia masih sibuk dengan isu Animal Wellfare / kesejahteraan hewan untuk ternak sapinya yang akan dipotong di RPH RPH di Indonesia. Nampaknya apabila harga sapi lokal terus naik sehingga sampai tidak terjangkau konsumen (jagal) pemerintah akan mengambil jalan pintas seperti yang sudah-sudah yaitu menambah kuota impor daging. Permainankah? bisa Ya bisa ya ya ya. Tidak perlu kaget atau terkejut, bisnis is bisnis yang penting menguntungkan, itu kata penguasa eh pengusaha atau kata dua-duanya.

Apapun kondisi harga nantinya, yang paling perlu mendapat perhatian tetaplah petani peternak skala kecil yang dengan modal pas-pasan berusaha utk tetap eksis di bisnis sapi ini. Jangan sampai terulang kembali ketika mereka panen harga anjlok lagi karena kurangnya kontrol terhadap sapi dan daging import. Jangan sampai judul diatas terulang menjadi...Sapi murah..linglung, Mahal? bingung, alias setali tiga uang.

Semoga........

September 2011, 20.30 WIB.

Selasa, 26 Oktober 2010

SAMPAI KAPAN?


Trend tahun-tahun lalu jika menjelang Idul Adha maka harga sapi lokal akan cenderung naik terutama ukuran beratnya kecil antara 250 kg - 350 kg, sedangkan sapi-sapi besar tidak begitu terpengaruh. 

Tetapi untuk tahun 2010 ini ada sedikit kelainan dimana menjelang hari raya tsb harga sapi tetap tidak bergeming alias stabil bahkan cenderung turun...ada apakah sebenarnya?

Disinyalir stock sapi yang masih berlimpah merupakan sebab utama tidak bergeraknya harga sapi ke arah yang lebih tinggi. Namun disisi lain ada juga sinyalemen permintaan daging yang cenderung turun di bulan "apit" yaitu bulan ditengah dua hari raya dimana tradisi di Jawa umumnya dibulan "apit" tabu untuk mengadakan hajatan. Sinyalemen lain adalah adanya pergeseran "selera" dimana permintaan daging sapi tergantikan oleh daging ayam dengan alasan harga daging ayam yang memang lebih murah. 

Pedagang bakso sebagai konsumen utama daging sapi sudah mulai sering mencampur daging sapi dan ayam dalam produknya karena terbukti lebih efisien tetapi rasa baksonya tidak terlalu terpengaruh sehingga konsumen yang tidak teliti akan mengira baso yang dikonsumsinya murni dari daging sapi....salahkah pedagang baso tsb? tergantung.... darimana kita melihatnya...

Sudah lebih dari tiga bulan sejak pembatasan import dan pelarangan import di Jatim diberlakukan namun harga sapi lokal tetap saja "payah" karena hanya di Jawa Timur saja yang terang terangan melarang sapi import masuk sementara diwilayah lain terutama Jawa Barat sapi tetap masuk sehingga pemasaran sapi lokal dari Jatim ke wilayah Barat juga tetap tersendat sehingga stock sapi di Jatim tetap melimpah, karena kalau hanya untuk konsumsi Jatim sendiri stock saat ini memang "terlihat" over atau hanya kelihatannya saja over? sehingga pada saatnya nanti akan menghilang dari pasaran seperti tahun-tahun sebelumnya?

Biasanya setelah lebaran haji, petani peternak mulai menahan untuk tidak menjual sapinya apabila berkaca pada tahun 2008 dan 2009. Mungkinkah di tahun 2010 ini kejadian tersebut akan terulang? Lalu sampai kapankah harga sapi lokal anjlok? Dan bagaimana pula nasib para feedlotter yang sudah invest sekian milyar namun untuk membeli sapi import sebagai komponen utama usahanya terhambat regulasi pemerintah? Sampai kapan larangan dan pembatasan import sapi  akan diberlakukan? Benarkah kita sudah  mulai ke arah  swasembada sapi dengan hanya melihat trend harga sapi lokal saat ini dan melihat stock sapi lokal yang "seolah-olah" tidak akan habis...masih terlalu dini untuk menilainya.

Kita harus arif berkaca dari tahun-tahun sebelumnya bahwa siklus naik turunnya harga selalu terulang dan juga banyak sedikitnya stock sapi dipasaran juga silih berganti, jadi siap-siap saja jika sapi lokal tiba-tiba hilang dari pasaran setelah kondisi stock melimpah mencapai titik jenuhnya......dan mulai berganti dengan kesulitan stock. Ini bukan hal yang mustahil karena kondisi saat ini akan "selalu" dimanfaatkan oleh para"oportunis" untuk mencari keuntungan sebanyak-banyaknya. Sedangkan bagi pemodal besar, saat inilah saat yang tepat untuk belanja sapi lokal sebanyak-banyaknya yang pada gilirannya akan dilepas ke pasaran saat sapi lokal mulai menghilang....dan tentunya akan bisa dijual dengan "margin"  yang lumayan tinggi. Jadi bersiap siaplah...sampai kapan? Hanya Tuhan yang tahu. Tak ada yang abadi... semua akan berubah seiring musim yang telah digariskanNya. So..jangan menyerah dan putus asa. OPTIMIS sajalah.  

Minggu, 19 September 2010

PEMBATASAN DAN PENGAWASAN IMPORT SAPI


Permasalahan naik turun harga dalam suatu perniagaan adalah hal yang sangat lumrah karena hal itu tergantung keseimbangan suply - demand, termasuk didalamnya perniagaan sapi potong baik import maupun lokal. Namun hal yang biasa tersebut akan menjadi luar biasa dan bahkan bisa menyebabkan kekacauan jika campur tangan pemerintah sebagai pemegang regulasi tataniaga import tidak tepat alias keliru. Banyak pihak yang akan dirugikan termasuk didalamnya rakyat kecil dan hanya segelintir yang diuntungkan. Sebagai contoh sederhana adalah pelarangan atau pembatasan import sapi, kebijakan ini tidak akan efektif jika tidak dibarengi dengan dihentikannya import daging beku.

Disatu sisi import sapi dibatasi dengan maksud melindungi peternak sapi lokal agar harganya tidak terus turun tetapi jika disisi lain import daging tetap digelontor maka harga daging juga akan jatuh yang ujungnya harga sapi lokal akan ikut terpuruk, alih alih harga naik bahkan mungkin akan banyak usaha peternakan yang berguguran.

Pembatasan bahkan pelarangan import sudah mulai mempengaruhi iklim usaha feedlotter baik yang besar maupun yang kecil yang basis utama usahanya adalah sapi import. Mereka mulai kelimpungan mencari bahan baku lain selain sapi import, pertanyaannya mungkinkah mereka akan memelihara sapi lokal? Belum tentu....karena kenyataannya secara genetik sapi lokal ADG nya tidak bisa bagus meskipun digenjot dengan pakan bagus sehingga tidak se-efisien jika memelihara sapi import.......(bersambung)

Jumat, 06 Agustus 2010

AKHIRNYA IJIN IMPORT SAPI PUN DIPERKETAT BAHKAN DI STOP???


Carut marut informasi per"sapi"an yang makin tidak menentu ditunggangi kepentingan politis dan ekonomis para pemainnya makin membuat situasi usaha persapian tambah tidak jelas arahnya. Over supply sapi import dan daging import dianggap sebagai biang keladi turunnya harga sapi lokal sehingga membuat petani menjerit rugi (katanya???). Lalu bagaimana pemerintah selaku penentu kebijakan mensikapi keadaan ini?

Seperti biasa selalu langkah yang "gampangan" yang ditempuh....stop ijin import sapi dan daging, kurangi...perketat dll dll dll tanpa lebih dulu mengajak para feedlotter untuk duduk bersama, sharing pendapat agar bisa dihasilkan win-win solution. Tidak seperti saat ini, keran import dimampetin bahkan untuk Jawa Timur ditutup sama sekali entah sampai kapan. 

Para penentu kebijakan yang ambil mudahnya menyetop import seolah tidak memperdulikan nasib pengusaha/feedlotter dalam hal kelangsungan usahanya, dengan dalih agar harga sapi lokal naik...tutup keran import, tidakkah mereka tahu bahwa dalam usaha penggemukan sapi/feedlotter juga ada komponen karyawan yang jumlahnya juga lumayan banyak dan mereka juga rakyat yang layak mendapatkan pekerjaan dan penghasilan??? Apabila bahan baku utama feedlot yaitu sapi bakalan tidak ada lantas bagaimana nasib karyawannya? Paling banter mereka pasrah menunggu nasib untuk dirumahkan dan bertambahlah angka pengangguran yang memang sudah tinggi menjadi lebih tinggi lagi.

Jika ditengok lebih mendalam, lokasi feedlot biasanya dipedesaan bahkan di tempat yang terpencil yang tadinya roda ekonominya senin kemis alias hidup segan matipun emoh. Tetapi seiring berdirinya feedlot yang menyerap tenaga kerja dari lingkungan masyarakat sekitar, denyut perekonomian bertambah cepat, penghasilan masyarakat semakin tinggi, lapangan kerja makin terbuka. Kenyataan ini bisa dilihat dengan gampang dilokasi-lokasi pedesaan disekitar feedlot yang tadinya mati dan terpencil menjadi hidup dan mudah dijangkau.

Hal-hal tersebut seharusnya dan seyogyanya  ikut dipikirkan agar kebijakan yang diambil tidak lantas menimbulkan masalah baru dan bukannya menyelesaikan masalah yang ada.

Saat ini harga sapi import terutama di Jabodetabek sudah melonjak tajam mencapai angka Rp 23.000 - Rp 27.000/kg yang pada gilirannya tentunya akan mengatrol harga daging menjadi semakin mahal dan mulailah ibu ibu kasak-kusuk, kok mahal..kok naik. Harga daging naik siapa yang kena imbasnya? rakyat juga, lalu kemana sebenarnya arah yang akan dituju dari pembatasan import sapi tsb? Lalu setelah harga daging tidak terjangkau, BIASANYA pemerintah juga akan mengambil langkah gampang juga...import daging sebanyak-banyaknya agar harga daging turun dst..dst. Selalu berulang dan berulang entah sampai kapan tataniaga daging dan sapi ini bisa beres tidak ada yang tahu karena begitu sarat dengan kepentingan individu para pelakunya.

Mudah-mudahan para pengambil kebijakan yang terkait dengan import sapi ini mau mengajak para pengusaha untuk duduk bersama, mencari solusi yang menang-menang dan bukan solusi yang menang sendiri karena mentang-mentang punya kuasa. Pasti ada jalan yang lebih baik daripada mengorbankan satu pihak untuk menolong pihak lain dengan dalih atas nama rakyat karena pengusaha dan karyawannya pun mereka toh juga rakyat yang seharusnya juga tidak perlu dikorbankan.

Sabtu, 19 Juni 2010

Kebijakan Salah Kaprah???

Semakin anjloknya harga sapi lokal membuat kalangan DPR dan pembuat kebijakan seperti kebakaran jenggot sehingga kurang teliti dalam menyaring info-info yang masuk seputar hancurnya harga sapi. Semua kalangan seperti paduan suara dengan mantap menuding kalangan importir alias feedlotter lah penyebab semua ini. Tanpa ada satupun yang bertanya, feedlotter yang mana atau importir seperti apa? semua dipukul rata...... bersambung..

Minggu, 02 Mei 2010

Penyakit mulut dan kuku

Sinonim : Aphthae epizooticae, Foot and mouth disease (FMD)
Penyakit mulut dan kuku pertama kali ditemukan di italia pada tahun 1514, yang selanjutnya menyebar ke Asia, Amerika Utara dan Selatan dan Afrika Selatan. 

Etiologi
Penyakit mulut dan kuku disebabkan oleh picorna virus.

Hospes
Penyakit Penyakit mulut dan kuku ini dapat menyerang pada golongan ruminansia seperti sapi kerbau kambing domba dan juga babi.

picorna virus penyebab PMK 
Patogenesis
Cara penularan penyakit mulut dan kuku adalah melalui udara secara aerosol sehingga dapat menyerang sapi pada saluran pernafasan. Dan dapat juga melalui kontak langsung dengan hewan ekresi dan sekresi dari hewan yang menderita penyakit mulut dan kuku.
Penyakit ini dibagi menjadi 3 macam bentuk
Bentuk dermostomatitis yang tenang (benigna)
Bentuk inrmadiate toxic dengan penyakit yang lebih berat
Bentuk ganas(malignant) dengan perubahan pada otot janung dan sklelet


Gejala klinis
Gejala yang ditimbulkan bervariasi tergantung pada kondisi dan factor virulensi dari Penyakit mulut dan kuku tersebut.
Gejala klinis yang mula mula terlihat antara lain suhu tubuh meningkat dan akan terlihat jelas pada sapi yang masih muda. Kenaikan ini akibat dari fase viremia dari virus picorna virus. Dan biasanya suhu tersebut akan turun setelah terbentuknya lepuh-lepuh.
Lepuh-lepuh tersebut dapat ditemukan didalam mulut sehingga menyebabkan meningkatnya saliva dalam mulut sehingga terbentuk busa disekitar bibir.
Lepuh tersebut juga dapat ditemukan pada ambing yang menyebabkan produksi susu turun dan kadang dapat menyebabkan keguguran.
Pada tracak biasanya lepuh terjadi bersamaan dengan proses yang terjadi didalam mulut. Lepuh yang terjadi menyebabkan rasa sakit atau nyeri pada hewan yang menderita, sehingga menyebabkan hewan tersebutmalas bergerak dan hanya mau berbaring.
Kesembuhan dari lesi yang tidak mengalami komplikasi akan berlangsung dengan cepat berkisar antara 1-2minggu, namun apabila ada infeksi skunder maka kesembuhan akan tertunda.

 lesi mulut
 
lesi pada tracak 


Diagnosis
Diagnosis dari penyakit mulut dan kuku didasarkan pada gejala klinis yang ditimbulkan. Selain itu dilakukan koleksi sampel pada hewan yang menderita untuk diperiksa dilaboratorium.
Sampel isolasi dapat diambil melalui cairan lepuh, keropeng bekas lepuh, dan sampel darah.

Diferensial diagnosa
Diferensial diagnose atau diagnose banding dari penyakit mulut dan kuku antara lain
Vesicular stomatitis
Exanthema vesicular pada babi
Swine vesicular disease (SVD)
Penyakit sampar pada sapi
Bovine Viral Diarrhea Virus - Mucosal Disease (BVDV-MD)
Jembrana

Pada kambing dan domba : penyakit virus contagious ecthyma dan orf

Pengendalian dan pencegahan
Untuk mengendalikan penyakit ini dapat dilakukan vaksinasi, tergantung pada keadaan setempat (Sumber vet-klinik)

KING GRASS (RUMPUT RAJA)

Rumput raja adalah jenis rumput baru yang belum banyak dikenal, yang merupakan hasil persilangan antara pennisetum purpereum (rumput gajah) dengan pennisetum tydoides, rumput ini mudah ditanam, dapat tumbuh dari dataran rendah hingga dataran tinggi, menyukai tanah subur dan curah hujan yang merata sepanjang tahun. Produksi rumput ini jauh lebih tinggi dibandingkan rumput lainnya.

Pengolahan tanah

Pada prinsipnya pengolahan tanah sama seperti pengolahan rumput gajah atau rerumputan unggul lainnya yaitu:
Tanah dibajak/dicangkul 1-2 kali kemudian diratakan
Tanah dibersihkan dari sisa-sisa tanaman dan gulma
Pembuatan parit/lubang tanaman

Bibit tanaman

Penanaman rumput gajah dapat dilakukan dengan stek maupun sobekan rumput stek terlebih dahulu dipotong-potong sepanjang 25-30 cm atau paling sedikit terdiri dari dua mata. Sedangkan bila menggunakan sobekan rumpun anak dipilih rumpun muda yang tingginya 20-25 cm. Kebutuhan bibit per hektar dengan jarak tanam 1 x 1 m adalah sebanyak 10.000 stek
atau rumpun. Waktu tanam yang baik adalah pada awal sampai pertengahan musim hujan, sehingga pada musim kemarau nanti akan tanaman sudah dalam dan cukup kuat. Pada penanaman dengan stek harus diperhatikan. Mata tunas jangan sampai terbalik karena akan mempengaruhi pertumbuhan tanaman. Stek dapat langsung ditancapkan setengahnya ke dalam tanah dengan tegak lurus atau miring serta jarak tanam 1 x 1 m. Untuk penanaman dengan sobekan rumpun, terlebih dahulu dibuat lobang sedalam 20 cm. Pada tanah miring tanah tidak perlu diolah, cukup dibuat lubang-lubang menurut kontur tanahnya sedemikian rupa sehingga sekaligus dapat berfungsi ganda sebagai penahan erosi. Jarak tanam dalam baris untuk tanah miring dianjurkan 50 cm dan jarak antar baris adalah 1 meter.

Pemupukan

Pemupukan pertama dilakukan pada waktu pengolahan (perataan) tanah yaitu dengan menggunakan 10 ton pupuk kandang/ha, 50 kg kcl dan 50 kg sp36/ha. Pemupukan selanjutnya dilakukan setelah tiga kali pemotongan dengan dosis yang sama. Disamping pupuk-pupuk diatas, urea jga diberikan pada waktu tanaman berumur 2 minggu dan setiap selesai potong dengan dosis 50 kg/ha.

Pemeliharaan dan waktu potong

Tanaman rumput raja memerlukan pemeliharaan yang teratur untuk memperoleh hasil ayng tinggi dan pertumbuhan yang cepat.
Untuk itu perlu dilakukan penyiangan terhadap gulma agar tidak terjadi persaingan. Pada waktu penyiangan perlu diadakan penggemburan tanha dan pembumbunan disekitar rumpun tanaman. Pemotongan pertama dapat dilakukan pada umur tanaman 2-3 bulan sebagai potong paksa. Hal ini bertujuan untuk menyamakan pertumbuhan dan merangsang pertumbuhan jumlah anakan. Pemotongan berikutnya dilakukan sekali setiap 6 minggu, kecuali pada waktu musim kemarah waktu potong sebaiknya diperpanjang. Tinggi pemotongan 10-15 cm dari permukaan tanah. Hindari pemotongan yang terlalu tinggi karena akan banyak sisa batang yang mengayu (keras). Dmeikian juga jangan dipotong terlalu pendek, karena akan mengurangi mata atau tunas muda yang tumbuh.

Produksi hijauan

Produksi hijauan rumput raja dibandingkan dengan rumput gajah cv, hawaii dan cv afrika dengan interval potong 6 minggu terlihat dalam tabel dibawah ini:
Jenis rumput produksi Prosentase perbandinganbatang dan daun Hijauan segar
(ton/ha/thn)
Bahan kering
(ton/ha/thn)
Hijauan segar Bahan kering
Rumput raja 1076 110 48:52 32:68
r. gajah cv-hawaii 525 63 59:41 64:36
r. gajah cv-afrika 376 40 44:56 44:56
Dari tabel disamping terlihat bahwa produksi rumput raja adalah dua kali lebih tinggi dari rumput gajah cv-hawaii, sedangkan
dengan rumput gajah cv-afrika (berbunga) adalah tiga kali lebih tinggi. Dari persentase berat daun juga lebih besar, jadi lebih
menguntungkan.
Kualitas/mutu hijauan
Mutu hijauahn rumput raja dibandingkan dengan gajah cv-hawaii dan gajah cv-afrika dengan interval potong 6 minggu tertera
pada tabel berikut:
Kandungan zat makanan (%)
Jenis rumput
Protein kasar lemak NDF abu ca P
Rumput raja 13.5 3.5 59.7 18.6 0.37 0.35
r. gajah cv-hawaii 12.3 2.4 64.2 10.1 0.24 0.39
r. gajah cv-afrika 13.5 3.4 64.2 15.8 0.31 0.37
Dari tabel tersebut diatas, pada umumnya mutu hijauan rumput raja lebih baik dari pada rumput lainnya. Yang hampir menyerupai adalah rumput gajah cv afrika, tetapi produksi hijauan tiga kali lebih rendah dari rumput king grass.

Daya tampung

Kebutuhan ternak sapi akan hujauan segar menurut perkiraan aksar yaitu 10% dari berat badan per hari per ekor. Apabila berat seekor sapi perah 600 kg, maka kebutuhan hijauan per hari adalah 60 kg, jadi kebutuhan akan hijauan per tahun 365 x 80 kg = 21,9 ton. Berdasarkan perhitungan tersebut berarti rumput raja dapat menampung 49 ekor sapi perah / ha / tahun secara potong angkut. (Sumber:serdangbedagaikab)

Kamus Sapi

Kulit Sapi : ialah bagian paling luar daging sapi. Kulit sapi biasanya dikeringkan dan digoreng menjadi rambak.

Kikil: adalah tulang rawan yang diambil dari bagian kaki sapi. Kikil biasanya ditemui dalam hidangan mie kikil.

Punuk atau lebih dikenal dengan nama blade adalah daging sapi bagian atas yang menyambung dari bagian daging paha depan terus sampai ke bagian punuk sapi. Pada bagian tengahnya terdapat serat-serat kasar yang mengarah ke bagian bawah, yang cocok jika digunakan dengan cara memasak dengan teknik mengukus. Biasanya daging ini digunakan untuk membuat makanan khas Nusa Tenggara Timur yaitu Se'i (sejenis daging asap).

Tetelan adalah bagian daging sapi yang sebenarnya merupakan sisa daging yang melekat pada tulang. Daging ini berupa campuran daging, urat, lemak dan sebagainya. Tetelan telah dikelupas dari tulang dan dipotong-potong. Biasa daging ini digunakan untuk sup atau rawon

Jeroan sapi adalah bagian dalam tubuh sapi yang terdiri dari usus, limpa dan babat. Biasanya hidangan yang dapat disajikan dengan bahan bagian tubuh ini adalah Coto Makassar.

Kelapa (Inggris: Knuckle) adalah bagian daging sapi yang berasal dari paha belakang bagian atas yang berada di antara penutup dan gandik. Biasanya hidangan yang menggunakan daging ini adalah panggangan dan casserole.

Cingur adalah tulang rawan dari bagian hidung dan bibir atas sapi. Biasanya ditemui dalam rujak cingur

Istilah glonggongan (diambil dari bahasa Jawa, glonggong) yang dikaitkan dengan produk daging (biasanya sapi), dipakai untuk daging yang dijual setelah melalui proses yang tidak wajar.
Beberapa jam sebelum penyembelihan, hewan potong diminumkan air (secara paksa) dalam jumlah besar dengan maksud meningkatkan massa daging. Perbuatan meng-glonggong sapi ini melanggar hukum karena menyiksa hewan yang akan disembelih juga disinyalir tidak aman untuk dikonsumsi.

Kepala sapi adalah bagian daging sapi sebelah kepala. Kepala sapi ini tidak banyak dagingnya namun mengandung beberapa bagian yang dianggap delicacy oleh sebagian orang. Otak sapi biasa dimasak sebagai gulai dalam Masakan Padang. Sementara itu hidung dan bibirnya dipakai sebagai pelengkap rujak cingur, makanan Surabaya. Kemudian lidahnya sering diasap.

Kaki sapi adalah bagian daging sapi pada bagian kaki yang biasa digunakan sebagai bahan dasar makanan. Biasanya daging ini digunakna untuk membuat sup kikil dan mi kocok bandung.

Lamosir atau lamusir atau dikenal juga dengan nama cube roll adalah bagian daging sapi yang berasal dari bagian belakang sapi di sekitar has dalam, has luar dan tanjung. Potongan daging ini diambil dari bagian punggung, dipotong dari rusuk keempat sampai rusuk keduabelas. Lamusir termasuk daging yang lunak karena didalamnya terdapat butir-butir lemak. Daging lamosir dapat dipanggang dalam oven, dibakar atau digrill. Biasanya daging ini digunakan untuk makanan khas Batam, Sup Lamosir.

Tulang T Inggris: T-Bone) adalah bagian daging sapi yang biasa dibuat sebagai steak. Potongan daging ini terbentuk dari tulang yang berbentuk seperti huruf T dengan daging disekitarnya. Bagian daging yang paling besar biasanya berasal dari bagian has luar, sedangkan bagian kecilnya berasal dari has dalam.

Sancan (Inggris: Flank / Plate) adalah bagian daging sapi yang berasal dari otot perut. Bentuknya panjang dan datar, tapi kurang lunak. Pada dasarnya bagian daging sapi ini memang lebih keras dibandingkan dengan daging has dan daging iga. Biasanya daging ini digunakan untuk campuran taco, makanan khas Meksiko, dan bisa juga digunakan untuk membuat steak. Sancan yang diiris tipis-tipis seringkali dijual sebagai daging oseng-oseng. Untuk membantu melunakkan potongan daging ini bisa dengan dipukul-pukul sebelum dimasak.

Gandik (Inggris: Silver Side) adalah bagian paha belakang sapi terluar dan paling dasar. Banyak yang sering tertukar dengan menyamakannya dengan Daging Paha Depan atau Shank. Biasanya daging ini digunakan untuk membuat dendeng balado atau abon sapi.

Tanjung atau lebih dikenal dengan nama Rump adalah salah satu bagian daging sapi yang berasal dari bagian punggung belakang. Biasanya daging ini disajikan dengan dipanggang.

Sengkel (diucapkan [sɛŋkəl] Belanda: Schenkel, Inggris: Shank / Shin) berasal dari bagian depan atas kaki sapi. Biasanya digunakan sebagai bahan dasar sup, soto dan bakso urat.

Has Dalam atau fillet atau tenderloin adalah daging sapi dari bagian tengah badan. Sesuai dengan karakteristik daging has, daging ini terdiri dari bagian-bagian otot utama di sekitar bagian tulang belakang, dan kurang lebih di antara bahu dan tulang panggul. Daerah ini adalah bagian yang paling lunak, karena otot-otot di bagian ini jarang dipakai untuk beraktivitas. Biasanya bagian daging ini digunakan untuk membuat steak.

Has Luar atau lebih dikenal dengan nama Sirloin adalah bagian daging sapi yang berasal dari bagian bawah daging iga, terus sampai ke bagian sisi luar has dalam. Daging ini adalah daging yang paling murah dari semua jenis has, karena otot sapi pada bagian ini masih lumayan keras dibanding bagian has yang lain karena otot-otot di sekitar daging ini paling banyak digunakan untuk bekerja. Biasanya daging ini digunakan untuk membuat steak.

Penutup Daging Sapi atau lebih dikenal dengan nama Topside atau Round adalah bagian daging sapi yang terletak di bagian paha belakang sapi dan sudah mendekati area pantat sapi. Potongan daging sapi di bagian ini sangat tipis dan kurang lebih sangat liat. Selain itu bagian ini sangat kurang lemak sehingga jika dibakar atau dipanggang akan sangat lama melunakkannya. Biasanya daging ini digunakan untuk campuran daging pizza

Lidah Sapi adalah bagian daging sapi yang berasal dari lidah sapi. Biasanya daging ini digunakan sebagai bahan dasar makanan untuk Sate Padang dan semur lidah. Lidah sapi juga diasap.

Ekor sapi atau dalam bahasa Jawa disebut dengan Buntut sapi adalah bagian ekor dari tubuh sapi. Biasanya bagian ini disajikan sebagai hidangan sup buntut.

Leher sapi atau biasa disebut chuck, biasa juga disebut sampil, ialah bagian dagian daging sapi pada daerah leher atau bahu. Biasanya daging ini digunakan untuk membuat steak atau rendang.

Sampil kecil, dalam bahasa Inggris blade. Nama lainnya ialah clod, oyster atau oyster blade. Bentuknya segi empat, merupakan sampil bagian bahu atas dan bawah. Potongan daging berbentuk segi empat inibisa dimasak menjadi rendang, kari, steak, oseng-oseng. Sedangkan kijen atau chuck tender berbentuk kerucut yang terlapis kulis luar yang tipis. Potongan ini juga cukup empuk untuk dimasak sebagai steak. Bisa juga dibuat rendang, sop dan oseng-oseng.
(Sumber: Wikipedia)

Jumat, 23 April 2010

Pergeseran Paradigma Sapi Import


Dulu, sapi import lebih dikenal sebagai sapi yang penuh lemak, dagingnya lembek, tidak bisa dibikin bakso, susah potongnya dll, dll. Tetapi sekarang paradigma ini sudah jauh bergeser, sapi import sudah menjadi primadona dimana-mana terutama di wilayah bagian barat Indonesia seperti Sumatra dan Jabodetabek.

Banyak pilihan jenis maupun  kualitas sapi import untuk saat sekarang ini. Mau yang dagingnya lean seperti daging sapi lokal juga tersedia dengan harga yang jauh lebih murah daripada sapi lokal. Ibaratnya seperti barang-barang import yang lain, apalagi dari negeri tirai bambu relatif jauh lebih murah dibandingkan produk-produk lokal. Pemain-pemain sapi lokal terutama di Jabodetabek mulai berguguran dan beralih menjadi pemotong sapi import.

Image bahwa daging sapi import selalu lebih berlemak dibandingkan sapi lokal lama-lama terkikis sejak adanya feedlot-feedlot yang mampu mensuplay sapi import dengan kualitas daging seperti sapi lokal alias non fat yang merupakan selera masyarakat kita. Lantas bagaimana dengan nasib sapi lokal jika hal seperti ini berlanjut terus? Ada imbas positif namun ada pula imbas negatifnya.

Imbas positifnya, terutama untuk jangka pendek (saat ini) populasi sapi lokal terjaga karena pemotongan berkurang dengan sendirinya akibat jagal lebih suka potong sapi import sehingga secara tidak langsung bahkan mampu mendukung program pemerintah untuk menambah populasi sapi lokal dan mempertahankannya agar tidak habis. Sebagai gambaran saat ini dipasar-pasar hewan terutama didaerah Jawa Timur seperti di kota Lumajang, Probolinggo, Jember, Situbondo, Tuban, Babat, Bojonegoro, Nganjuk dll sapi lokal berlimpah.

Imbas negatifnya, petani/peternak teriak karena harga sapi lokal "jatuh" sehingga tidak imbang antara biaya produksi dengan harga jualnya. Efek jangka panjangnya gairah petani/peternak untuk memelihara sapi lokal akan semakin menurun dan tentunya ini menjadi sinyal negatif untuk pemerintah yang sudah gembar-gembor untuk swasembada daging di tahun 2014.

Saatnya dipikirkan solusi terbaik untuk menstabilkan situasi yang semakin tidak kondusif bagi petani/peternak rakyat akibat jatuhnya harga jual dan "membludaknya" suplly yang tidak balance dengan demand nya.

Kamis, 22 April 2010

WAGYU BEEF

MELT in the mouth. Itulah predikat yang disandang daging wagyu nomor satu. Dikenal sebagai daging yang luar biasa empuk, lumer di lidah. Bagi orang Jepang, wagyu berarti sapi (gyu) kepunyaan kami atau segala sesuatu yang berbau Jepang (wa). 

Secara umum, daging sapi ini, terutama yang berasal dari prefektur (kabupaten) Kobe, daerah Matsusaka di prefektur Mie dan provinsi Omi yang sekarang dikenal sebagai prefektur Shiga, dianggap luar biasa karena tak ada daging sapi lain yang bisa meleleh di mulut. 

Ini disebabkan oleh angka kerapatan perlemakannya yang sangat tinggi, hingga 12 pada skala Jepang. Sehingga, tidak tertandingi oleh daging sapi nomor satu Amerika (prime) yang hanya mencapai 7. Maka, harganya selangit. ''US$1000 per kilo,'' kata pakar boga William Wongso. 

Karena separuh lebih lemak (sekitar 52%) di dalamnya adalah lemak tak jenuh yang tidak saja mempunyai titik lumer lebih rendah daripada lemak jenuh, tetapi juga umumnya mencair dalam suhu ruangan. Maka, sesampai di mulut segera meleleh menjadi minyak yang memberikan citarasa gurih (atau umami bagi orang Jepang). 

''Daging sapi Kobe menurut saya tidak cocok dibuat steik. Apalagi kalau diberi saus bernaise, saus krim atau saus lainnya yang kaya minyak. Lha, dagingnya sendiri sudah mengandung banyak minyak, buat apa diberi saus berminyak lagi? Lebih cocok dibuat tepanyaki, dimakan dengan saus kecap Jepang (soyu) yang tidak berminyak dan bawang putih yang digoreng garing supaya rasanya lebih menendang,'' kata William. 

Alternatif lainnya adalah dihidangkan mentah sebagai carpaccio/ sashimi daging dalam bentuk irisan sangat tipis dengan saus cuka minyak zaitun (vinaigrette). 

Kalau toh tetap mau dipaksakan dijadikan steik, William menyarankan dagingnya sebaiknya tebal dan diusahakan agar garing di luar tapi tetap basah dan 'hidup' di dalam. 

Cara lain adalah bakar cepat irisan tipis dalam api amat panas. Jadi, ketika minyak dalam daging terlalu berlimpah, maka strategi menikmatinya perlu pun diubah. Misalnya, dengan menghidangkannya sebagai sabu-sabu dalam bentuk irisan tipis dicelup ke kuah panas kemudian dimakan. Air panas yang ikut terangkut memberi rasa segar, menjadi semacam penyeimbang. 

Sapi pilihan 
Sejauh lukisan cat air Timur (China, Korea, Jepang) berbeda dari lukisan cat minyak Barat, begitulah kira-kira beda wagyu dengan daging sapi Barat. Masing-masing memiliki latar filsafat berbeda, 'rasa' dan cara penanganan yang berbeda pula. 

Barat menampilkan kenikmatan daging sebagai otot, yang bersifat badani. Tetapi Jepang lebih tertarik menyuguhkan kehalusan citarasa yang lebih abstrak, dituangkan lewat metamorfosa lemak ke minyak. Maka, dipilihlah sapi yang paling empuk dagingnya dan kurang berkembang ototnya tetapi berpotensi besar dikembangkan lemaknya. Pilihannya, sapi jantan yang dikebiri saat usia 2-3 bulan dan sapi betina yang masih perawan. 

Ini karena sapi betina kurang berotot dibandingkan yang jantan dan lebih mudah digemukkan. Begitu pula sapi jantan yang dikebiri. Hilangnya kejantanan melenyapkan kemampuan membentuk otot yang kekar dan meningkatkan penumpukan lemak. 

Kebiri juga dimaksudkan untuk menghilangkan bau prengus yang menohok hidung. Usia sapi juga ikut berperan. Karena daging anak sapi kurang citarasanya, maka dipilih sapi dewasa atau mendekati dewasa yang rata-rata berusia 10-13 bulan untuk digemukkan supaya citarasa dagingnya lebih kuat. 

Pemeliharaan yang rata-rata berlangsung selama 20 bulan dilakukan lewat dua cara. Pertama, dengan memberikan makanan bergizi tanpa paksaan karena bila dipaksa, lemak akan ditimbun di punggung. Lalu, memastikan bahwa makanan dicerna dengan baik. 

Biji-bijian atau makanan lain yang berserat tinggi seperti ampas gandum (malt) dan ampas arak buah plum juga diberikan supaya lambung meregang, menjadi lebih besar dan dapat menampung lebih banyak makanan sehingga lebih cepat gemuk. Namun, kerapatan perlemakan yang sangat tinggi pada wagyu (disebut fat marbling atau sashi dalam bahasa Jepang) sebenarnya lebih disebabkan oleh faktor genetika, terutama pada wagyu berbulu hitam galur Tajima. 

''Menurut statistik, dari 100 ekor wagyu yang digemukkan, hanya 10% yang menghasilkan daging dengan angka kerapatan perlemakan 9 atau lebih,'' kata William yang juga mengasuh acara masak-memasak di Metro TV. 

Faktor genetika 
Gen pembentuk lemak inilah yang membuat wagyu sangat diingini oleh Amerika dan Australia sampai-sampai kedua negara ini mengimpor sapi Jepang supaya dapat menghasilkan daging sapi wagyu sendiri tanpa harus tergantung pada Jepang. 

Hukum Jepang saat ini melarang mengekspor genetika wagyu. Tapi, wagyu sudah terlanjur diekspor ke Amerika Serikat tiga kali. Pertama kali di tahun 1976 sebanyak empat ekor, kedua kali pada 1993 sebanyak 2 wagyu jantan dan 3 betina, dan ketiga kali di tahun 1994 sebanyak 35 jantan dan betina. 

Ekspor tersebut membuat marah peternak wagyu Jepang dan orang yang bertanggung jawab meloloskan wagyu keluar dari Jepang, Shogo Takeda yang juga salah satu pemulia wagyu ternama di Jepang, dikeluarkan dari Asosiasi Pencatatan Ternak Wagyu Nasional Jepang (yang berfungsi seperti semacam kantor catatan sipil untuk wagyu). 

Sejak itu belum ada wagyu yang diekspor lagi. Tetapi itu sudah cukup untuk menyebarkan bibit wagyu ke mana-mana. Karena terbatasnya lahan peternakan di Jepang, Jepang sendiri akhirnya mengimpor daging wagyu dari Amerika dan Australia. Kedua negara ini melakukan persilangan wagyu trah murni dengan jenis sapi lain untuk mendapatkan trah murni dan label wagyu. 

Ketika hampir siap disembelih, wagyu tersebut dikirim ke Kobe untuk menjalani tahap terakhir penggemukannya sebelum akhirnya disembelih dan dijual sebagai daging wagyu Kobe. 

Pemijatan 
Di Amerika dan Australia, wagyu tidak dimanjakan seperti di Jepang sehingga biaya pemeliharaannya lebih murah. Selain itu, harga lahan peternakan di sana juga lebih murah. Alhasil, harga jualnya pun lebih murah, apalagi wagyu Australia. 

Stephanie Storm dalam artikel In Japan, a Steak Secret to Rival Kobe di New York Times tahun 2001, menyebutkan bahwa pemijatan dan pemberian bir masih dilakukan pada wagyu Matsusaka. Tetapi pemutaran lagu klasik hanyalah mitos. Pemijatan dimaksudkan agar perlemakan daging menyebar lebih merata dan bir diminumkan guna memicu nafsu makan terutama saat musim panas karena suhu udara yang tinggi biasanya membuat sapi kehilangan nafsu makan. 

Artinya, segala upaya dilakukan guna memastikan agar sapi hidup enak dan nyaman hingga saat terakhir (dijagal) agar tidak ada hormon stres yang terlepas dan mempengaruhi mutu daging. 

Semuanya ini ibarat mempersiapkan binatang yang akan dipersembahkan sebagai kurban sembelihan bagi dewa-dewa: dipilih yang terbaik, dirawat sebaik-baiknya dan dijaga agar tetap perawan atau tak pernah tumbuh menjadi jantan. Hanya saja, dewa-dewa zaman sekarang harus punya kantong super tebal untuk mendapatkan kurban asli Jepang tersebut kalau tak mau mendapat versi bukan Jepang yang lebih murah. (Sumber: MediaIndonesia)

Membedakan Aneka Steak

Secara sederhana, steak adalah daging yang dipotong dari seekor sapi (atau ayam, atau ikan) yang kemudian dimatangkan dengan cara dibakar diatas bara, di bakar diatas nyala api, di oven, atau bahkan digoreng. Steak pada umumnya berasal dari daging sapi, yang dimasak singkat. Pada umumnya disajikan dengan nasi, kentang, roti atau pasta. 

Pada umumnya, kita mengenal beberapa macam steak, dan dari beberapa macam ini, yang paling populer jika kita berbicara mengenai steak, adalah Tenderloin, Sirloin dan T-Bone Steak. Bagian manakah mereka?

1. Tenderloin

Dianggap sebagai raja steak karena paling lembut dan empuk. Teksturnya lembut, berbentuk oval dan ukurannya kira-kira sebesar bola baseball. Daging ini diambil diatas paha belakang sapi. 85 gram (3 oz) daging ini mengandung 250 kalori, 21,4 gram protein, dan 17,2 gram lemak. 

2. Sirloin

Sirloin steak adalah potongan daging dengan sedikit potongan tulang yang ditinggalkan karena akan menambah rasa daging yang ada. Menurut daerah tempat daging ini dipotong, sirloin dapat berupa bottom sirloin atau top sirloin steak. Ukuran steak ini biasanya berada di ukuran diameter 5-10 cm dengan tebal 1,5 sampai 4 cm. 85 gram (3 oz) sirloin adalah 220 kalori, 22 gram protein, 12,8 gr lemak. Sirloin biasanya lebih murah daripada tenderloin dengan rasa yang hampir sama nikmatnya. 

3. T-Bone

Steak ini dinamai demikian karena tulang berbentuk T yang ada di dalam daging tadi. 85 gram daging T-Bone mengandung sekitar 260 kalori, dengan 19.6 gram lemak dan protein dalam jumlah yang sama. Daging ini memiliki nutrisi yang tinggi dan biasanya dimatangkan dengan cara dibakar diatas bara atau nyala api. Steak ini lebih mahal daripada Sirloin tapi masih lebih murah daripada tenderloin. (Sumber: Kapanlagi)

Sabtu, 17 April 2010

Yakiniku Beef


(foto: Media Indonesia)

Bahan: 

500 gr daging sirloin iris tipis 
100 gr bawang Bombay iris tipis 
100 cc kaldu ayam 
1 bh paprika iris 
3 bh bawang putih iris halus 

Bahan sauce: 
100 cc kikoman 
100 cc sake 
50 cc white/red wine (optional) 
50 gr gula pasir 
1 bt bawang daun potong panjang 
2 ½ sm kecap manis 
2 bh bawang putih , keprek iris 
1 sm wijen, panggang 

Cara membuat :
1. Satukan semua bahan sauce masak sd mendidih kira2 15 menit, dinginkan saring. Sisihkan 
2. Panaskan 2 sm minyak goreng bw putih dan bw Bombay sampai layi masukan paprika sambil diaduk2 sebentar, angkat sisihkan 

3. Panaskan 2 sm minyak dan 1 sm minyak wijen, masukan daging aduk2 sampai berubah warna, tuangkan sauce dan kaldu, aduk rata, sampai daging matang dan air tinggal sedikit, masukan bw Bombay dan paprika tambahkan wijen. Angkat hidangkan. (Sumber: Resepmasakan).


Mulai "KRISIS" Pakan Ternak

Menjamurnya Feedlot Sapi di Indonesia mampu memenuhi kebutuhan daging secara Nasional, namun disisi lain menyisakan satu masalah krusial buat fedlotter itu sendiri. Masalah yang sangat penting dan urgent yaitu ketersediaan pakan ternak. 

Bahan-bahan limbah pertanian yang bisa dimanfaatkan untuk pakan ternak antara lain Onggok (bahan sisa/ampas dari pabrik tepung tapioka), kulit kopi, janggel jagung, ampas tahu, kulit kacang, jerami padi, pucuk tebu, gaplek, katul/dedak dll. Sedangkan bahan lain yang sengaja ditanam antara lain rumput gajah, rumput raja (king grass), Tebon jagung (tanaman jagung yang ditanam khusus untuk pakan sapi), legume seperti alfalfa, desmodium rensonii dll.

Bahan dari limbah pertanian semisal onggok sangat bergantung pada pabrik/produsen tepung dalam hal kapasitas produksinya. Lebih kurang sepuluh tahun yang lalu, onggok adalah hanya dianggap limbah alias barang tidak berharga dari hasil samping pengolahan tepung dan tentu saja tidak ada harganya alias dipandang sebelah mata. Saat itu onggok bisa didapatkan secara gratis. Bandingkan dengan saat ini ketika begitu banyak feedlot membutuhkannya, harga onggok per kilogram bahkan mencapai Rp 1000/kg. Bayangkan jika satu feedlot membutuhkan onggok untuk pakan sapinya sampai 30%-40% dari keseluruhan bahan pakan yang digunakan. Bila diasumsikan satu feedlot kapasitas 5000 ekor dengan kebutuhan pakan perhari 12 kg per ekor sapi maka untuk 5000 ekor dibutuhkan pakan/ration sebanyak 60.000 kg. jika kebutuhan onggok 40% maka dalam sehari dibutuhkan sebanyak  24.000 kg yang senilai dengan Rp 24.000.000.

Tahun 2009 sapi import masuk ke Indonesia lebih dari 600.000 ekor, bisa dibayangkan berapa banyak pakan yang dibutuhkan. Tidaklah mengherankan jika saat ini untuk terjun ke usaha penggemukan sapi haruslah pintar-pintar bermain "pakan/ration" dan harus mahir melobi suplier agar suplly bahan pakan bisa tetap kontinu. Krisis bahan baku pakan mulai terasa ketika jumlah feedlot dengan kapasitas pemeliharaan ribuan ekor semakin banyak bermunculan. Bertambahnya populasi sapi tidak diimbangi dengan bertumbuhnya pabrik tepung tapioka misalnya, sehingga produk samping yang berupa onggok tidak mencukupi yang hasilnya harga onggok terus naik tapi barangnya juga langka.

Ulasan diatas hanya dimaksudkan untuk membuka mata kita bahwa sudah saatnya dicari alternatif-alternatif lain untuk bahan baku pakan sapi terutama yang banyak tersedia di negara tropis seperti Indonesia ini. Dibandingkan dengan Australia yang memiliki banyak padang rumput penggembalaan tentunya dalam hal pakan biayanya jauh lebih murah dari negara kita yang kadang untuk suply bahan baku pakan harus diambil di tempat yang jaraknya sampai ratusan bahkan ribuan kilometer yang tentunya membutuhkan biaya transport yang tidak murah.

Apabila ditahun 2010 ini import sapi dari Australia tetap melampaui angka 600.000 ekor setahun maka bisa dipastikan "krisis" bahan baku pakan sapi akan lebih parah, tidak hanya onggok tapi juga bahan baku pakan lainnya.

Rabu, 14 April 2010

Harga Sapi Lokal "Anjlok"

Fenomena anjloknya harga sapi lokal/po/IB di pasar hewan tradisional sudah mulai terasa sejak beberapa bulan yang lalu terutama sejak sapi import membanjiri Jakarta dan daerah-daerah lain di Indonesia. Bahkan sejak awal Maret 2010 sampai April 2010 harga semakin turun dan turun membuat petani/peternak rakyat "menjerit" karena jatuhnya harga secara tidak langsung ikut mengganggu stabilitas "dapur" mereka.

Namun apalah daya "orang kecil", jika sapi tidak dijual biaya tambah banyak baik untuk pakan maupun perawatan lainnya sementara kebutuhan hidup terus bertambah sehingga mau tidak mau mereka harus menjual sapinya meskipun kerugian yang ditanggung untuk ukuran mereka sangatlah mencekik leher. Sebagian dana yang diperoleh dari hasil jual rugi sapinya dipakai untuk menambal kebutuhan hidup sehari-hari, sebagian lagi dibelikan pedet agar pada saatnya nanti setelah dipelihara sekian waktu bisa dijual lagi, entah untung entah rugi.

Mengapa harga sapi lokal bisa terus-menerus turun? bahkan bisa lebih murah dari sapi import yang biasanya sapi lokal bisa lebih mahal 2000-3000 rp/kg dibandingkan sapi import?

Over supply ditengarai sebagai pemicu utama turunnya harga sapi lokal. Banjirnya sapi import terutama di daerah Jabodetabek mengakibatkan sapi lokal terhambat untuk masuk jakarta karena kalah bersaing dengan sapi import. Jawa Timur sebagai salah satu sentra sapi lokal jadi "kehilangan" tempat/pasar untuk produk andalannya yang berupa sapi loka tsb. Area pemasaran sapi lokal jadi sangat menyempit hanya di Jawa Timur dan sekitarnya, akibatnya sapi "menumpuk" sementara pembeli sedikit. Efek dari hal ini, berlaku hukum pemasaran ketika supply meningkat sementara demand menurun maka taruhannya harga akan "tumbang".

Persaingan antara pengusaha penggemukan sapi dan juga pengusaha trading sapi untuk saling berebut pasar juga ditengarai ikut andil "menjatuhkan" harga sapi lokal. Hampir semua feedlotter sekarang ini memiliki stock sapi import yang berlimpah yang harus segera dijual sehingga berbagai cara mereka lakukan yang penting agar sapinya laku. Persaingan kualitas dan obral harga menjadi andalan untuk menggaet pasar. Hal seperti ini mengakibatkan sapi lokal makin "tergencet" sehingga harga jualnya makin turun agar tetap bisa bersaing dan tetap laku.

Bagai makan buah simalakama, import sapi yang terus membanjir tentunya mampu mengamankan ketersediaan daging dan juga mampu mempertahankan populasi sapi lokal kita agar tidak habis terpotong, namun disisi lain peternak menjerit karena harga sapi yang terus merosot dan mereka terus merugi. Apabila hal ini terus dibiarkan berlarut-larut, dikhawatirkan minat petani/peternak skala rumah tangga untuk memelihara sapi makin berkurang dan beralih profesi ke usaha yang lain.

Benang merah yang bisa ditarik adalah: Bahwa penurunan harga yang sudah diambang "kritis" untuk sapi lokal harus segera diantisipasi dengan kontrol import sapi yang ketat agar petani/peternak tidak kehilangan gairah dan kehilangan mata pencahariannya. Belumlah perlu berangan-angan swasembada sapi/daging karena hal tersebut masih jauh..dan jauh. (bersambung.......).

Senin, 12 April 2010

Inseminasi Buatan (IB) / Kawin Suntik

Inseminasi buatan adalah peletakan sperma ke follicle ovarian (intrafollicular), uterus (intrauterine), cervix (intracervical), atau tube fallopian (intratubal) wanita dengan menggunakan cara buatan dan bukan dengan kopulasi alami.

Teknik modern untuk inseminasi buatan pertama kali dikembangkan untuk industri ternak untuk membuat banyak sapi dihamili oleh seekor sapi jantan untuk meningkatkan produksi susu.

(Sumber: Wikipedia)

Tujuan Inseminasi Buatan
Memperbaiki mutu genetika ternak;
Tidak mengharuskan pejantan unggul untuk dibawa ketempat yang dibutuhkan sehingga mengurangi biaya;
Mengoptimalkan penggunaan bibit pejantan unggul secara lebih luas dalam jangka waktu yang lebih lama;
Meningkatkan angka kelahiran dengan cepat dan teratur;
Mencegah penularan / penyebaran penyakit kelamin. 

Keuntungan Inseminasi Buatan (IB)
Menghemat biaya pemeliharaan ternak jantan;
Dapat mengatur jarak kelahiran ternak dengan baik;
Mencegah terjadinya kawin sedarah pada sapi betina (inbreeding);
Dengan peralatan dan teknologi yang baik sperma dapat simpan dalam jangka waktu yang lama;
Semen beku masih dapat dipakai untuk beberapa tahun kemudian walaupun pejantan telah mati;
Menghindari kecelakaan yang sering terjadi pada saat perkawinan karena fisik pejantan terlalu besar;
Menghindari ternak dari penularan penyakit terutama penyakit yang ditularkan dengan hubungan kelamin.
Inseminator
Adalah tenaga teknis menengah yang telah dididik dan mendapat sertifikat sebagai inseminator dari pemerintah (dalam hal ini Dinas Peternakan).

Pelayanan Petugas Inseminasi Buatan
Pelayanan inseminasi buatan dilakukan oleh Inseminator yang telah memiliki surat izin melakukan inseminasi (SIM) dengan sistem aktif, pasif dan semi-aktif.

Bila inseminator belum memiliki SIM maka tanggung jawab hasil kerjanya jatuh pada Dinas Peternakan Propinsi tempatnya bekerja. 

Pelaporan pelaksanaan Inseminasi Buatan (IB) mengikuti pedoman sebagai berikut:
Inseminator mengisi tanggal pelaksanaan Inseminasi Buatan (IB) pertama, kedua, ketiga dan seterusnya pada kartu catatan Inseminasi Buatan (IB) masing-masing akseptor
Inseminator wajib melaporkan jumlah sapi yang tidak birahi kembali setelah Inseminasi Buatan (IB) pertama (kemungkinan bunting) dan tempat serta nama peternak yang sapi / ternaknya yang baru di Inseminasi Buatan (IB) kepada Petugas Pemeriksa Kebuntingan
Inseminator wajib melaporkan jumlah sapi yang "repeat breeder" (sapi yang telah di Inseminasi Buatan (IB) lebih dari tiga kali dan tidak bunting) kepada Asisten Teknis Reproduksi. 

Tugas pokok inseminator adalah:

Menerima laporan dari pemilik ternak mengenai sapi birahi dan memenuhi panggilan tersebut dengan baik dan tepat waktu
Menangani alat dan bahan Inseminasi buatan sebaik-baiknya
Melakukan identifikasi akseptor Inseminasi Buatan (IB) dan mengisi kartu peserta Inseminasi Buatan (IB);
Melaksanakan Inseminasi Buatan (IB) pada ternak;
Membuat laporan pelaksanaan Inseminasi Buatan (IB) dan menyampaikan kepada pimpinan SPT IB
Untuk mempermudah pelaporan / permintaan pelayanan Inseminasi Buatan (IB) maka harus dibuat suatu sistem pelaporan yang sederhana, cepat, mudah dan murah. Kotak laporan, bendera di depan rumah / kandang, kartu birahi dan lain-lain adalah beberapa sistem komunikasi yang telah dijalankan pada beberapa tempat di Indonesia. Setiap daerah mempunyai keadaan yang berbeda, oleh karena itulah buatlah suatu perjanjian dengan para akseptor mengenai cara-cara komunikasi yang baik yang disepakati bersama. Komitmen untuk mematuhi keputusan tersebut juga diperlukan.
Petugas IB (inseminator) hanya boleh menginseminasi kalau betina sedang birahi saja. Kalau betina tidak sedang birahi, petugas IB sebaiknya memberitahukan ke peternak dan memintanya untuk memperhatikan gejala birahi dengan lebih baik lagi.
 
Anatomi dan Fisiologi Alat Kelamin Betina
Pubertas (kematangan alat kelamin / dewasa kelamin) terjadi akibat aktivitas dalam ovarium (indung telur), umur pubertas pada sapi adalah antara 7 - 18 bulan, atau dengan berat badan telah mencapai kurang lebih 75% dari berat dewasa. Kecepatan tercapainya umur dewasa kelamin tergantung dari:

Jenis / bangsa sapi;
Gizi
Bila jumlah dan kandungan gizi pakan kurang jumlah atau mutunya, maka dewasa kelamin akan lebih lama dicapai, hal ini disebabkan berat badan yang kurang;
Cuaca
Di daerah tropis seperti di Indonesia, umur dewasa kelamin lebih cepat / muda
Penyakit
Karena mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan berat badan, apalagi bila menyerang alat kelamin, maka kemungkinan besar umur dewasa kelamin lebih lambat dicapai.

Siklus birahi pada sapi betina yang normal biasanya berulang setiap 21 hari, dengan selang antara 17-24 hari.

Siklus birahi akan berhenti secara sementara pada keadaan-keadaan:
Sebelum dewasa kelamin;

Selama kebuntingan;

Masa post-partum. 
Siklus birahi dibagi dalam 4 tahap, dan berbeda-beda pada setiap spesies hewan. Tahapan dan lamanya pada sapi dapat ditemui di bawah ini :

Estrus
Pada tahap ini sapi betina siap untuk dikawinkan (baik secara alam maupun IB). Ovulasi terjadi 15 jam setelah estrus selesai. Lama periode ini pada sapi adalah 12 - 24 jam.

Proestrus
Waktu sebelum estrus. Tahap ini dapat terlihat, karena ditandai dengan sapi terlihat gelisah dan kadang-kadang sapi betina tersebut menaiki sapi betina yang lain. Lamanya 3 hari.

Metaestrus
Waktu setelah estrus berakhir, folikelnya masak, kemudian terjadi ovulasi diikuti dengan pertumbuhan / pembentukan corpus luteum (badan kuning). Lama periode ini 3 - 5 hari.

Diestrus
Waktu setelah metaestrus, corpus luteum meningkat dan memproduksi hormon progesteron.
Periode ini paling lama berlangsungnya karena berhubungan dengan perkembangan dan pematangan badan kuning, yaitu 13 hari. 

Pada saat keadaan dewasa kelamin tercapai, aktivitas dalam indung telur (ovarium) dimulai. Waktu estrus, ovum dibebaskan oleh ovarium. Setelah ovulasi terjadi, bekas tempat ovarium tersebut itu dipenuhi dengan sel khusus dan membentuk apa yang disebut corpus luteum (badan kuning)

Corpus luteum ini dibentuk selama 7 hari, dan bertahan selama 17 hari dan setelah waktu itu mengecil lagi karena ada satu hormon (prostaglandin) yang merusak corpus luteum dan mencegah pertumbuhannya untuk jangka waktu yang relatif lama (sepanjang kebuntingan).

Selain membentuk sel telur , indung telur / ovarium juga memproduksi hormon, yaitu:
Sebelum ovulasi: hormon estrogen;
Setelah ovulasi corpus luteum di ovarium memproduksi: hormon progesteron 
Hormon-hormon ini mengontrol (beri jarak) kejadian siklus birahi di dalam ovarium.

Pelaksanaan Program Inseminasi Buatan (IB)

Pemeriksaan Awal
Deteksi birahi yang tepat adalah kunci utama keberhasilan Inseminasi Buatan, selanjutnya adalah kecepatan dan ketepatan pelayanan Inseminasi Buatan itu sendiri dilaksanakan. Untuk memudahkan, sebagai patokan biasa dilakukan sebagai berikut:
 

Pertama kali terlihat tanda-tanda birahi Harus diinseminasi pada Terlambat 
Pagi Hari yang sama Hari berikutnya
Sore Hari berikutnya (pagi dan paling lambat siang hari) Sesudah jam 15:00 besoknya

 Keterlambatan pelayanan Inseminasi Buatan (IB) akan berakibat pada kerugian waktu yang cukup lama. Jarak antara satu birahi ke birahi selanjutnya adalah kira-kira 21 hari sehingga bila satu birahi terlewati maka kita masih harus menunggu 21 hari lagi untuk melaksanakan Inseminasi Buatan (IB) selanjutnya. Kegagalan kebuntingan setelah pelaksanaan Inseminasi Buatan (IB) juga akan berakibat pada terbuangnya waktu percuma, selain kerugian materiil dan immateriil karena terbuangnya semen cair dan alat pelaksanaan Inseminasi Buatan (IB) serta terbuangnya biaya transportasi baik untuk melaporkan dan memberikan pelayanan dari pos Inseminasi Buatan (IB) ke tempat sapi birahi berada.

Tanda - tanda birahi pada sapi betina adalah :

ternak gelisah
sering berteriak
suka menaiki dan dinaiki sesamanya
vulva : bengkak, berwarna merah, bila diraba terasa hangat (3 A dalam bahasa Jawa: abang, abuh, anget, atau 3 B dalam bahasa Sunda: Beureum, Bareuh, Baseuh)
dari vulva keluar lendir yang bening dan tidak berwarna
nafsu makan berkurang
Gejala - gejala birahi ini memang harus diperhatikan minimal 2 kali sehari oleh pemilik ternak. Jika tanda-tanda birahi sudah muncul maka pemilik ternak tersebut tidak boleh menunda laporan kepada petugas inseminator agar sapinya masih dapat memperoleh pelayanan Inseminasi Buatan (IB) tepat pada waktunya. Sapi dara umumnya lebih menunjukkan gejala yang jelas dibandingkan dengan sapi yang telah beranak.

Waktu Melakukan Inseminasi Buatan (IB)
Pada waktu di Inseminasi Buatan (IB) ternak harus dalam keadaan birahi, karena pada saat itu liang leher rahim (servix) pada posisi yang terbuka.

Kemungkinan terjadinya konsepsi (kebuntingan) bila diinseminasi pada periode-periode tertentu dari birahi telah dihitung oleh para ahli, perkiraannya adalah :
permulaan birahi : 44%
pertengahan birahi : 82%
akhir birahi : 75%
6 jam sesudah birahi : 62,5%
12 jam sesudah birahi : 32,5%
18 jam sesudah birahi : 28%
24 jam sesudah birahi : 12%  
 
Faktor - Faktor Penyebab Rendahnya Kebuntingan
Faktor - faktor yang menyebabkan rendahnya prosentase kebuntingan adalah :
Fertilitas dan kualitas mani beku yang jelek / rendah;
Inseminator kurang / tidak terampil;
Petani / peternak tidak / kurang terampil mendeteksi birahi;
Pelaporan yang terlambat dan / atau pelayanan Inseminator yang lamban;
Kemungkinan adanya gangguan reproduksi / kesehatan sapi betina. 
Jelaslah disini bahwa faktor yang paling penting adalah mendeteksi birahi, karena tanda-tanda birahi sering terjadi pada malam hari. Oleh karena itu petani diharapkan dapat memonitor kejadian birahi dengan baik dengan cara:
Mencatat siklus birahi semua sapi betinanya (dara dan dewasa);
petugas IB harus mensosialisasikan cara-cara mendeteksi tanda-tanda birahi.
 
Salah satu cara yang sederhana dan murah untuk membantu petani untuk mendeteksi birahi, adalah dengan memberi cat diatas ekor, bila sapi betina minta kawin (birahi) cat akan kotor / pudar / menghilang karena gesekan akibat dinaiki oleh betina yang lain.
Penanganan bidang reproduksi adalah suatu hal yang rumit. Ia membutuhkan suatu kerja sama dan koordinasi yang baik antara petugas yang terdiri atas dokter hewan, sarjana peternakan dan tenaga menengah seperti inseminator, petugas pemeriksa kebuntingan, asisten teknis reproduksi. Koordinasi juga bukan hanya pada bidang keahlian tetapi juga pada jenjang birokrasi karena pelaksanaan Inseminasi Buatan (IB) masih lewat proyek yang dibiayai oleh pemerintah sehingga birokrasi masih memegang peranan yang besar disini. Koordinasi dari berbagai tingkatan birokrasi ini yang biasanya selalu disoroti dengan negatif oleh para petugas lapang dan petani. Keterbuakaan adalah kunci keberhasilan keseluruhan program ini. 
 
Sinkronisasi Birahi
Pada beberapa proyek pemerintah, seringkali inseminasi buatan dilaksanakan secara crash-program dimana pada suatu saat yang sama harus dilaksanakan Inseminasi padahal tidak semua betina birahi pada waktu yang bersamaan. Oleh karena itu harus dilaksanakan apa yang disebut dengan sinkronisasi birahi.
Pada dasarnya, sinkronisasi birahi adalah upaya untuk menginduksi terjadinya birahi dengan menggunakan hormon Progesteron. Preparatnya biasanya adalah hormon sintetik dari jenis Prostaglandin F2a. Nama dagang yang paling sering ditemui di Indonesia adalah Enzaprost F.
Sinkronisasi birahi ini mahal biayanya karena harga hormon yang tinggi dan biaya transportasi serta biaya lain untuk petugas lapang. 

Cara apikasi hormon untuk penyerentakkan birahi adalah sebagai berikut :
Laksanakan penyuntikan hormon pertama, pastikan bahwa :
Sapi betina resipien harus dalam keadaan sehat dan tidak kurus (kaheksia);
Sapi tidak dalam keadaan bunting, bila sapi sedang bunting dan penyerentakkan birahi dilakukan maka keguguran akan terjadi. 
Laksanakan penyuntikan hormon kedua dengan selang 11 hari setelah penyuntikan pertama;
Birahi akan terjadi 2 sampai 4 hari setelah penyuntikan kedua.
 
Prosedur Inseminasi Buatan adalah sebagai berikut:
Sebelum melaksanakan prosedur Inseminasi Buatan (IB) maka semen harus dicairkan (thawing) terlebih dahulu dengan mengeluarkan semen beku dari nitrogen cair dan memasukkannya dalam air hangat atau meletakkannya dibawah air yang mengalir. Suhu untuk thawing yang baik adalah 37oC. Jadi semen/straw tersebut dimasukkan dalam air dengan suhu badan 37 oC, selama 7-18 detik.
Setelah dithawing, straw dikeluarkan dari air kemudian dikeringkan dengan tissue.
Kemudian straw dimasukkan dalam gun, dan ujung yang mencuat dipotong dengan menggunakan gunting bersih
Setelah itu Plastic sheath dimasukkan pada gun yang sudah berisi semen beku/straw
Sapi dipersiapkan (dimasukkan) dalam kandang jepit, ekor diikat
Petugas Inseminasi Buatan (IB) memakai sarung tangan (glove) pada tangan yang akan dimasukkan ke dalam rektum
Tangan petugas Inseminasi Buatan (IB) dimasukkan ke rektum, hingga dapat menjangkau dan memegang leher rahim (servix), apabila dalam rektum banyak kotoran harus dikeluarkan lebih dahulu
Semen disuntikkan/disemprotkan pada badan uterus yaitu pada daerah yang disebut dengan 'posisi ke empat'. Setelah semua prosedur tersebut dilaksanakan maka keluarkanlah gun dari uterus dan servix dengan perlahan-lahan. (Sumber: vet-klinik)

RENDANG DAGING SAPI

Rendang daging sapi  yang dimasak dengan santan kelapa dan bumbu-bumbu.


Bahan:

1 kg daging sapi atau kerbau, potong persegi menjadi sekitar 20 potong, enakan daging sapi.
4 lembar daun jeruk
1 batang serai
2 liter santan kelapa kental dari 1 butir kelapa tua yang besar

Bumbu yang dihaluskan:
2 siung bawang putih
4 buah bawang merah
25 gram jahe
15 gram kunyit
75 gram lengkuas muda
1 sdm. cabai giling atau sesuai selera
1 sdt. merica
½ buah biji pala
4 buah kemiri
½ sdm. garam
1 sdm. gula pasir

Cara membuat:
Rendam daging dengan bumbu yang sudah dihaluskan paling sedikit 1 jam
Masak santan di atas wajan dengan api sedang, aduk sekali-kali hingga minyak dari santan mengambang di atas permukaan (paling sedikit 20 menit) dan sisihkan
Ke dalam wajan besar, masukkan daging bersama bumbu dan santan sebanyak 300 cc (hingga daging terendam)
Masukkan daun salam dan daun serai, masak dengan api sedang sambil diaduk-aduk sampai separuh dari santan menguap
Tuangkan lagi 100 cc santan dan aduk-aduk hingga semua air pada santan menguap
Teruskan mengaduk dan menambahkan sisa santan kelapa, sekitar 100 cc untuk sekali tuang.
Masak sampai daging menjadi empuk (paling sedikit 1½ jam) dan sampai semua air pada santan kelapa menguap dan bumbu rendang jadi. (Sumber: wikibooks)

Minggu, 04 April 2010

RESEP STEAK LEZAT


Steak pertama kali diperkenalkan oleh tentara Inggris di Perancis setelah perang Waterloo. Hidangan ini biasanya terbuat dari sekerat daging dengan berat 100 hingga 400 gr. Teknik pembuatanya bisa di panggang atau di goreng dengan sedikit lemak atau minyak.


Kini steak berkembang ke seantero jagad, termasuk Indonesia. Bahannya juga bervariasi dengan bumbu atau saus mengikuti selera masyarakat setempat. Jika Anda penikmat steak, sah saja jika mau memodifikasinya dengan bahan atau bumbu sesuai selera. Bagi para pemula, jangan berkecil hati, 10 resep steak lezat, praktis namun dengan penyajian yang menawan layaknya masakan hotel berbintang. Tentunya masih ditambah saus pelengkap penyempurna cita rasa yang istimewa. 

Tips Mengolah Steak
Agar hasil steak maksimal, simak tips berikut:
1. Apapun dagingnya usahakan memotong dengan cara melawan urat agar daging tidak liat.

2. Jika steak disajikan dalam bentuk potongan besar, rendam dalam bumbu lebih lama agar bumbu meresap dan beri pengempuk daging (serbuk papain) agar tekstur daging tidak liat.

3. Pilih daging bagian terlunak seperti sirloin atau topside untuk hasil steak maksimal.

4. Jangan pernah memasak steak terlalu lama karena tekstur daging akan liat dan rasa manis khas daging menjadi hilang.

5. Layukan daging dalam freezer selama semalam agar tekstur daging lebih empuk.

6. Tingkat kematangan steak ada beberapa macam, seperti:
• Very Rare : untuk 225 gr daging dimasak 1 menit setiap sisinya. Pada tingkat ini, bagian luar daging berubah warna, sedangkan dalamnya masih mentah.
• Rare : untuk setiap 225 gr daging, dimasak 2 menit setiap sisinya. Warna permukaan merah muda, sedang dalamnya mentah dan berdarah.
• Medium: untuk 225 gr daging dimasak 3-4 menit setiap sisinya. Bagian luar berwarna kecoklatan, dalamnya merah muda hampir matang.
• Well done : untuk 225 gr daging dimasak 5 menit setiap sisinya. Daging matang, Untuk penggemar steak tingkat kematangan ini tidak desarankan sebab daging kehilangan gurihnya..

SIRLOIN STEAK ALA KENTUCKY
Untuk 2 porsi
Bahan:
500 gr daging sapi sirloin (pangkal paha)
30 gr paterseli cincang
4 siung bawang merah
½ sdm pasta tomat
¼ sdt tepung terigu
125 ml air/kaldu daging
2 sdm mentega
1 sdm red wine/kentucky
¼ sdt lada halus
½ sdt garam halus
Pelengkap:
100 gr bawang bombay goreng/onion ring
100 gr pure kentang
75 gr setup sayuran
Cara Membuat:
1. Potong daging menjadi tiga atau empat bagian. Rendam daging dalam larutan garam, daun paterseli, lada dan garam. Diamkan 30 menit agar bumbu meresap.

2. Panaskan mentega pada grill pan. Masukan daging dan masak sampai daging matang. Angkat daging dari perapian, potong-potong.

3. Saus: Tumis bawang bombay pada wajan bekas menggoreng steak, masukkan tepung terigu, pasta tomat, lada dan garam. Setelah harum, tambahkan air/kaldu, masak sambil diaduk hingga saus mengental. Sesaat sebelum diangkat, tambahkan kentucky/red whine.

4. Penyajian: Siapkan piring saji, atur daging, onion ring, pure kentang dan setup sayuran. Siram dengan saus dan sajikan segera.


CORDON BLEU STEAK SAUS VELOUTE DE POISSON
Untuk 2 porsi
Bahan:
500 gr dada ayam
4 lembar daging asap
4 lembar keju cheddar lembaran
75 gr tepung panir
60 gr tepung terigu
2 butir telur, kocok lepas
Perendam:
½ sdt lada halus
½ sdt garam halus
150 ml susu tawar cair
Pelengkap:
Kentang goreng
Setup asparagus
Veloute De Poisson Sauce:
½ sdm tepung terigu
½ sdm bawang bombay cincang
150 ml kaldu ikan/ayam
1 sdm mentega
1 sdt white wine
1 sdt air jeruk lemon
Cara Membuat:
1. Belah filet dada ayam (jangan sampai putus), tipiskan dengan pemukul daging, sisihkan.

2. Rendam dalam bahan perendam 30 menit hingga bumbu meresap.

3. Isi filet dengan daging asap dan keju lembaran. Lapisi filet dengan tepung terigu, telur dan tepung panir. Goreng dalam campuran minyak dan mentega sampai matang dan berwarna kuning kecoklatan. Angkat

4. Saus: Panaskan mentega, tumis bawang bombay sampai harum. Masukan tepung terigu, aduk rata. Tambahkan kaldu ayam, lada dan garam. Masak sampai tekstur saus mengental, sesaat sebelum, diangkat tambahkan white wine dan air jeruk lemon.
5. Penyajian: Sajikan cordon bleu steak dengan kentang goreng, setup asparagus dan saus pelengkap.


STEAK SAUS TERIYAKI
Untuk 2 porsi
Bahan:
500 gr daging sirloin, potong dengan ketebalan 1½ cm
2 sdm mentega
½ sdt lada halus
garam secukupnya
1 sdm kecap asin
Saus teriyaki :
2 sdm kecap asin
1 sdm mirin
1 sdt gula pasir
1 sdm bawang putih cincang
½ sdt lada halus
60 ml kaldu daging
1 sdm minyak goreng
1 buah cabai merah, potong dadu kecil
1 buah cabai hijau, potong dadu kecil
Cara Membuat:
1. Bumbui daging dengan lada, garam dan kecap asin, diamkan 30 menit agar bumbu meresap.

2. Panaskan mentega dalam grill pan, panggang daging sambil dibalik-balik sampai matang. Angkat.

3. Saus Teriyaki: panaskan mentega, tumis bawang putih sampai harum. Masukan kaldu dan bumbu-bumbu lain. Masak sampai mendidih, angkat dan sajikan sebagai pelengkap steak. (Sumber: Budiboga)


Mengenal Jenis Potongan Daging Sapi


MESKIPUN kita mungkin sering makan daging sapi, namun pada waktu kita ingin membuat hidangan daging di rumah, seringkali bingung sendiri ketika belanja di pasar atau di swalayan. Babak pertama pemilihan daging sudah lolos ketika kita melihat bahwa daging masih terlihat segar, dengan warna merah yang bagus, tidak ada bau yang menyengat, dan potongan-potongan yang serupa terlihat rapih dan seragam. Pertanyaan yang seringkali muncul adalah, potongan mana yang paling cocok untuk resep yang akan kita pakai?


Pemotongan sapi di setiap negara agak berbeda dari negara yang lain karena tergantung dari pemakaian/permintaan di negara tersebut. Potongan utama, atau primal cuts, adalah potongan-potangan besar pada karkas sapi menjadi sampil, sandung lamur, lamusir depan, rusuk, has luar, samcan, shortloin, betak daging paha belakang, pinggul tebal, penutup serta betis depan dan belakang. Potongan utama kemudian dibagi menjadi sub-primal cuts dan terkadang sub-primal cuts dibagi lagi menjadi potongan ukuran porsi individual.

Yang penting diketahui oleh konsumen adalah potongan mana yang paling tepat untuk dipakai baik karena karakteristik potongan tersebut cocok untuk teknis memasak yang akan dipakai maupun dari segi budget.

Sampil
Sampil. dalam bahasa Inggris chuck, didapat dari daging paha atas, bahu dan punuk. Sampil merupakan daging yang kurang lunak namun penuh rasa karena kandungan kolagen yang cukup tinggi. Karena harganya yang lumayan bersahabat dibandingkan potongan prima seperti has dalam, sampil adalah salah satu potongan daging yang cocok untuk dipakai dalam hidangan sehari-hari.

Untuk mengatasi sifatnya yang kurang lunak, sampil sebaiknya dimasak dengan cara stewing (dimasak dalam cairan, seperti rendang, kari atau semur), atau diungkep (dimasak dengan sedikit cairan dengan panci tertutup rapat). Daging sampil juga bisa dipotong kecil-kecil untuk kemudian digunakan dalam sop atau dalam oseng-oseng, diolah menjadi bakso, abon atau empal. Jika Anda ingin membuat hamburger yang lezat dan ekonomis, maka sampil yang digiling sangatlah cocok untuk dibuat hamburger.

Sampil kecil, dalam bahasa Inggris blade tetapi juga disebut clod, oyster atau oyster blade, merupakan sampil bagian bahu atas dan bawah yang berbentuk segi empat. Sampil kecil merupakan potongan daging yang tebal namun empuk, bisa dimasak menjadi rendang, kari, steak, oseng-oseng.

Kijen atau chuck tender berbentuk kerucut yang terlapis kulis luar yang tipis. Potongan ini juga cukup empuk untuk dimasak sebagai steak, namun juga bisa dibuat rendang, sop dan oseng-oseng.

Sandung lamur
Sandung lamur, dalam bahasa Inggris brisket, adalah potongan dari bagian dada. Potongan ini agak berlemak, dan bisa dimasak dalam berbagai hidangan seperti soto atau pho, atau hidangan berkuah yang dimasak dengan api kecil hingga empuk seperti Asem-Asem Sandung Lamur atau Sandung Lamur Cabai Hijau. Di negara-negara Barat sandung lamur digunakan untuk membuat corned beef serta smoked brisket. Potongan sandung lamur lainnya adalah sandung lamur bagian pangkal (brisket naval end) dan sandung lamur bagian ujung (brisket point end)

Iga
Lamusir depan, atau cube roll, diambil dari bagian punggung, dipotong dari rusuk keempat hingga rusuk keduabelas. Lamusir termasuk daging yang lunak karena terdapat butir-butir lemak didalamnya. Cara meyiapkannya dengan dipanggang dalam oven, dibakar atau digrill.

Iga adalah potongan daging yang berasal sekitar tulang rusuk, yaitu dari rusuk keenam hingga keduabelas. Tulang iga, atau short ribs, bisa diolah menjadi sop seperti sop konro atau dimasak semur. Iga juga bisa dipanggang, dibarbecue, dan diungkep.
Rib-eye steak adalah potongan dalam bentuk steak, bisa dengan tulang (bone in) atau tanpa tulang (boneless).

Shortloin, has luar, sirloin
Shortloin dan has luar (striploin) adalah potongan daging bagian belakang sapi. Sirloin adalah bagian daging yang terletak persis di belakang shortloin dan di atasnya tenderloin atau has dalam. Di Indonesia sirloin juga disebut sebagai has luar. Potongan shortloin and has luar dipotong lagi menjadi steak seperti Porterhouse Steak, T-Bone steak, strip steak.

Otot dari bagian sapi ini masih bekerja cukup keras, namun beban pekerjaannya tidak seberat sampil, punuk dan betis depan sehingga dagingnya lumayan lunak. Meskipun jenis daging ini termasuk dalam kategori prima, harganya tidak semahal has dalam. Has luar bisa dimasak dengan berbagai cara yaitu sebagai steak, diiris tipis-tipis untuk keperluan sukiyaki, yakiniki atau shabu-shabu.

Has dalam
Has dalam, dalam bahasa Inggris tenderloin atau fillet, adalah potongan daging yang paling empuk dan kandungan lemaknya tidak besar. Lokasi potongan daging ini ditengah-tengah sirloin. Karena daging ini sangat lunak, cara memasaknya dengan cepak supaya tekstur daging tidak rusak.

Has dalam bisa dipotong untuk dipanggang dalam oven, atau bisa juga dipotong dalam bentuk steak (tenderloin steak, fillet mignon). Biasanya steak tartare dibuat dari has dalam. Harga jenis potongan ini adalah yang paling mahal dibandingkan dengan potongan yang lainnya.

Samcan
Samcan atau flank, adalah potongan dari bagian otot perut. Bentuknya panjang dan datar, dan kurang lunak. Di Prancis daging ini dinamakan bavette, dimasak secukupnya saja dan dimakan rare supaya daging tidak menjadi a lot karena dimasak terlalu lama.

Samcan yang diiris tipis-tipis seringkali dijual sebagai daging oseng-oseng. Samcan bisa didiamkan dalam marinade satu malam atau beberapa hari untuk membantu proses pelunakan dan setelah dimasak dipotong menjadi irisan tipis atau bisa juga dipukul-pukul sebelum dimasak.

Penutup, tanjung, kelapa, pendasar, gandik
Dari paha belakang sapi, atau rump, terdapat beberapa potongan yaitu rump (tanjung), kelapa (knuckle), penutup (inside, topside), silverside, gandik (eye of round), dan pendasar (outside).

Tanjung adalah bagian pinggang sapi yang dilapisi oleh lemak yang cukup tebal, bisa dipotong sebagai rump atau dipotong lagi menjadi rump steak. Daging tanjung termasuk jenis daging yang lunak. Tanjung bisa panggang, digrill atau dibroil, digoreng atau diungkep. Jika diiris tipis-tipis bisa juga dipakai untuk oseng.

Daging penutup, kelapa, gandik dan pendasar cocok untuk dibuat empal, dendeng, dan rendang karena sifat dagingnya yang padat.

Silverside terdapat di paha belakang bagian bawah. Dagingnya padat dan tidak banyak mengandung lemak. Cocok untuk dibuat dendeng, rendang, abon dan bisa juga direbus.

Sengkel
Sengkel, dari bahasa Belanda schenkel, dalam bahasa Inggris shank atau shin merupakan daging yang terdapat di bagian atas betis sapi. Potongan daging ini tidak lunak, dan bisa dibuat menjadi kari, sop, digiling untuk dijadijan daging cincang yang tidak begitu berlemak. (Sumber: Infoternak)

Jumat, 19 Maret 2010

PEDET

Manajemen pemeliharaan pedet merupakan salah satu bagian dari proses penciptaan bibit sapi yang bermutu. Untuk itu maka sangat diperlukan penanganan yang benar mulai dari sapi itu dilahirkan sampai mencapai usia sapi dara. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan diantaranya :

I. Penanganan Pedet pada saat lahir
Bersihkan semua lendir yang ada dimulut dan hidung harus dibersihkan demikian pula yang ada dalam tubuhnya menggunakan handuk yang bersih.
Buat pernapasan buatan bila pedet tidak bisa bernapas.
Potong tali pusarnya sepanjang 10 cm dan diolesi dengan iodin untuk mencegah infeksi lalu diikat.
Berikan jerami kering sebagai alas.
Beri colostrum secepatnya paling lambat 30 menit setelah lahir.

II. Pemberian Pakan Anak Sapi / Pedet
Pedet yang terdapat di BET semaksimal mungkin mendapatkan asupan nutrisi yang optimal. Nutrisi yang baik saat pedet akan memberikan nilai positif saat lepas sapih, dara dan siap jadi bibit yang prima. Sehingga produktivitas yang optimal dapat dicapai. Pedet yang lahir dalam kondisi sehat serta induk sehat di satukan dalam kandang bersama dengan induk dengan diberi sekat agar pergerakan pedet terbatas. Diharapkan pedet mendapat susu secara ad libitum, sehingga nutrisinya terpenuhi. 
Selain itu pedet dapat mulai mengenal pakan yang dikonsumsi induk yang kelak akan menjadi pakan hariannya pedet tersebut setelah lepas sapih. Perlakuan ini haruslah dalam pengawasan yang baik sehingga dapat mengurangi kecelakaan baik pada pedet atau induk.
Bagi pedet yang sakit, pedet dipisah dari induk dan dalam perawatan sampai sembuh sehingga pedet siap kembali di satukan dengan induk atau induk lain yang masih menyusui. Selama pedet dalam perawatan susu diberikan oleh petugas sesuai dengan umur dan berat badan.

a. Proses Pencernaan Pada Sapi Pedet.

Untuk dapat melaksanakan program pemberian pakan pada pedet, ada baiknya kita harus memahami dulu susunan dan perkembangan alat pencernaan anak sapi. Perkembangan alat pencernaan ini yang akan menuntun bagaimana langkah-langkah pemberian pakan yang benar.

Sejak lahir anak sapi telah mempunyai 4 bagian perut, yaitu : Rumen (perut handuk), Retikulum (perut jala), Omasum (perut buku) dan Abomasum (perut sejati). Pada awalnya saat sapi itu lahir hanya abomasum yang telah berfungsi, kapasitas abomasum sekitar 60 % dan menjadi 8 % bila nantinya telah dewasa. Sebaliknya untuk rumen semula 25 % berubah menjadi 80 % saat dewasa. Waktu kecil pedet hanya akan mengkonsumsi air susu sedikit demi sedikit dan secara bertahap anak sapi akan mengkonsumsi calf starter (konsentrat untuk awal pertumbuhan yang padat akan gizi, rendah serat kasar dan bertekstur lembut) dan selanjutnya belajar menkonsumsi rumput. Pada saat kecil, alat pencernaan berfungsi mirip seperti hewan monogastrik.

Pada saat pedet air susu yang diminum akan langsung disalurkan ke abomasum, berkat adanya saluran yang disebut “Oeshopageal groove”. Saluran ini akan menutupi bila pedet meminum air susu, sehingga susu tidak jatuh ke dalam rumen. Bila ada pakan pada baik konsentrat atau rumput, saluran tersebut akan tetap membuka, sehingga pakan padat jatuh ke rumen. Proses membuka dan menutupnya saluran ini mengikuti pergerakan refleks. Semakin besar pedet, maka gerakan reflek ini semakin menghilang. Selama 4 minggu pertama sebenarnya pedet hanya mampu mengkonsumsi pakan dalam bentuk cair.

Zat makanan atau makanan yang dapat dicerna pada saat pedet adalah : protein air susu casein), lemak susu atau lemak hewan lainnya, gula-gula susu (laktosa, glukosa), vitamin dan mineral. Ia mampu memanfaatkan lemak terutama lemak jenuh seperti lemak susu, lemak hewan, namun kurang dapat memanfaatkan lemak tak jenuh misalnya minyak jagung atau kedelai. Sejak umur 2 minggu sapi pedet dapat mencerna pati-patian, setelah itu secra cepat akan diikuti kemampuan untuk mencerna karbohidrat lainnya (namun tetap tergantung pada perkembangan rumen). Vitamin yang dibutuhkan pada saat pedet adalah vitamin A, D dan E. Pada saat lahir vitamin-vitamin tersebut masih sangat sedikit yang terkandung di dalam kolostrum sehingga perlu diinjeksi ketiga vitamin itu pada saat baru lahir.

Dalam kondisi normal, perkembangan lat pencernaan dimulai sejak umur 2 minggu. Populasi mikroba rumennya mulai berkembang setelah pedet mengkonsumsi pakan kering. Semakin besar pedet maka ia akan mencoba mengkonsumsi berbagai jenis pakan dan akan menggertak komponen perutnya berkembang dan mengalami modifikasi fungsi. Anak sapi / pedet dibuat sedikit lapar, agar cepat terangsang belajar makan padatan (calf starter). Pedet yang baru lahir mempunyai sedikit cadangan makanan dalam tubuhnya. Bila pemberian makanan sedikit dibatasi (dikurangi), akan memberikan kesempatan pedet menyesuaikan diri terhadap perubahan kondisi pakan, tanpa terlalu banyak mengalami stress/cekaman.

Tahap mencapai alat pencernaan sapi dewasa umunya pada umur 8 minggu, namu pada umur 8 minggu kapasitas rumen masih kecil, sehingga pedet belum dapat mencerna/memanfaatkan rumput atau makanan kasar lainnya secar maksimal.

Umur mencapai tahapan ini sangat dipengaruhi oleh tipe pakannya ( yaitu berapa lama dan banyak air susu diberikan, serta kapan mulai diperkenalkan pakan kering). Setelah disapih, pedet akan mampu memanfaatkan protein vegetal dan setelah penyapihan perkembangan alat pencernaan sangat cepat.

b. Jenis-jenis Bahan Pakan Anak Sapi / Pedet

Jenis bahan pakan untuk anak sapi dapat digolongkan menjadi 2 yaitu:

- Pakan cair/likuid : kolostrum, air susu normal, milk replacer.

- Pakan padat/kering : konsentrat pemula (calf starter).

Agar pemberian setiap pakan tepat waktu dan tepat jumlah, maka karakteristik nutrisi setiap pakan untuk pedet perlu diketahui sebelumnya.  

b. 1 Kolostrum

Kolostrum adalah air susu yang dikeluarkan dari ambing sapi yang baru melahirkan, berwarna kekunig-kuningan dan lebih kental dari air susu normal.

Komposisi kolostrum :
Kolostrum lebih banyak mengandung energi, 6X lebih banyak kandungan proteinnya, 100X untuk vitamin A dan 3X lebih kaya akan mineral dibanding air susu normal.
Mengandung enzym yang mampu menggertak sel-sel dalam alat pencernaan pedet supaya secepatnya dapat berfungsi (mengeluarkan enzim pencernaan).
Kolostrum mengandung sedikit laktosa sehingga mengurangi resiko diare.
Mengandung inhibitor trypsin, sehingga antibodi dapat diserap dalam bentuk protein.
Kolostrum kaya akan zat antibodi yang berfungsi melindungi pedet yang baru lahir dari penyakit infeksi.
Kolostrum dapat juga menghambat perkembangan bakteri E. coli dalam usus pedet (karena mengandung laktoferin) dalam waktu 24 jam pertama.

Mutu Kolostrum :

Warna dan kekentalannya menunjukan kualitasnya (kental dan lebih kekuning-kuningan akan lebih baik, karena kaya akan imonoglobulin). Kualitas kolostrum akan rendah apabila : Lama kering induk bunting, kurang dari 3 – 4 minggu, sapi terus diperah sampai saat melahirkan. Sapi induk terlalu muda, ambing dan puting susu tidak segera dibersihkan saat melahirkan maupun saat akan diperah.

b .2 Milk Replacer atau Pengganti Air Susu (PAS)

Pada fase pemberian susu untuk pedet, air susu sapi asli dapat diganti menggunakan Milk Replacer/PAS. Milk Replacer yang baik kualitasnya dapat memberikan pertambahan bobot badan yang sama dengan kalau diberi air susu sampai umur 4 minggu. Namun kadang-kadang pemberian milk replacer mengakibatkan sapi lambat dewasa kelamin dan sering mengakibatkan pedet kegemukan. Milk replacer yang baik dibuat dari bahan baku yang berasal dari produk air susu yang baik seperti ; susu skim, whey, lemak susu dan serealia dalam jumlah terbatas. Milk replacer sebaiknya diberikan pada saat pedet berusia antara 3 – 5 minggu dan jangan diberikan kepada pedet yang berusia kurang dari 2 minggu. Pedet yang berusia kurang dari 2 minggu belum bisa mencerna pati-patian dan protein selain casein (protein susu).

Milk replacer yang baik mempunyai standar komposisi sebagi berikut :

Protein 20%, lemak 12%, serat kurang dari 0.25% dan juga mengandung antibiotik untuk mencegah diare. Selain antibiotik juga dapat memberikan faedah dalam nafsu makan, kehalusan bulu yang halus, pertambhan bobot badan dan efisien penggunaan pakan. Anti biotik yang sering digunakan adalah Klortetrasiklin dan oksitetrasiklin. Frekuensi pemberian sama dengan pemberian air susu harus lebih dari 1X dalam 1 hari dan yang terpenting harus teratur waktu dan jumlahnya.



III. Manajemen Pemeliharaan Pedet Baru Lahir dan Pemberian kolostrum.

Pemeliharaan pedet harus memerlukan perhatian yang khusus, berbeda dengan pemeliharaan sapi ternak dewasa, terutama dalam penanganan mulai kelahiran sampai pemberian pakan dan penanganan penyakit selama masa pertumbuhannya.

a. Manajemen Pemberian Kolostrum 1 – 4 hari Pasca Kelahiran.

- Segera bersihkan ambing dan puting induk pasca melahirkan dengan menggunakan air hangat.

- Usahakan pedet dapat segera ( dalam waktu kurang dari 15 – 30 menit ) menyusu pada induknya (induk dan pedet jangan dipisah dulu, agar pedet dapat langsung menyusu pada induknya. Selain itu dengan menyusu, akan merangsang sekresi oksitosin yang menggertak pergerakan uterus, sehingga kotoran yang ada dalam uterus induk setelah melahirkan dapat dibersihkan.

- Bila pedet tidak dapat menyusu pada induknya maka di perah kolostrum dari induk sebanyak 1 liter.

- Berikan segera ke pedet dalam waktu 15 – 30 menit.

- Berikan kembali kolostrum dalam 2X pemberian berikutnya masing-masing 2 liter/pemberian dalam waktu 12 – 24 jam berikutnya sejak lahir.

- Kapasitas normal pedet yang baru lahir adalah 1 liter, dengan demikian kolostrum tidak dapat diberikan secara sekaligus, perlu dilakukan beberapa kali dalam sehari.

- Untuk hari-hari berikutnya, selama 3 hari berikutnya, berikan kolostrum 4 – 6 liter/hari dalam 3 kali pemberian (1.5 – 2 liter /pemberian).

- Kualitas kolostrum menentukan konsumsi antibodi pedet dalam darahnya, bila kurang memadai peluang hidup 30 % dan bila baik dapat menjadi 95 %.



b. Manajemen Pemberian Susu 4 hari – 12 minggu (penyapihan)

- Pemberian susu pasca kolostrum dapat dimulai sejak pedet berumur 3 – 4 hari.

- Pemberiannya perlu dibatasi berkisar 8 – 10 % bobot badan pedet. Misalnya pedet bobot badannya 50 kg, maka air susu yang diberikan 4 – 5 liter/ekor/hari.

- Pemberian susu diberikan secara bertahap dalam 1 hari 2 – 3 kali pemberian.

- Jumlah air susu yang diberikan akan terus meningkat sampai menginjak usia 2 bulan (8 minggu) disesuaikan bobot badan sapi dan akan terus menurun sampai ke fase penyapihan di usia 3 bulan (12 minggu). (dapat dilihat di tabel pemeliharaan pedet).

- Hindari pemberian susu berlebih dan berganti-ganti waktu secara mendadak. Over feeding akan memperlambat penyapihan dan akan mengurangi konsumsi bahan kering dan akan mengakibatkan diare.

- Jangan memberikan air susu yang mengandung darah dari induk yang terkena infeksi (suhu tubuhnya meningkat).

c. Manajemen Pemberian Pakan Awal/Pemula (Calf Starter)

Pemberian calf starter dapat dimulai sejak pedet 2 – 3 minggu (fase pengenalan). Pemberian calf starter ditujukan untuk membiasakan pedet dapat mengkonsumsi pakan padat dan dapat mempercepat proses penyapihan hingga usia 4 minggu. Tetapi untuk sapi – sapi calon bibit dan donor penyapihan dini kurang diharapkan. 

Penyapihan (penghentian pemberian air susu) dapat dilakukan apabila pedet telah mampu mengkonsumsi konsetrat calf starter 0.5 – 0.7 kg kg/ekor/hari atau pada bobot pedet 60 kg atau sekitar umur 1 – 2 bulan. Tolak ukur kualitas calf starter yang baik adalah dapat memberikan pertambahan bobot badan 0.5 kg/hari dalam kurun waktu 8 minggu. Kualitas calf starter yang dipersyaratkan : Protein Kasar 18 – 20%, TDN 75 – 80%, Ca dan P, 2 banding 1, kondisi segar, palatable, craked.

d. Manajemen Pemberian Pakan Hijauan

Pemberian hijauan kepada pedet yang masih menyusu, hanya untuk diperkenalkan saja guna merangsang pertumbuhan rumen. Hijauan tersebut sebenarnya belum dapat dicerna secara sempurna dan belum memberi andil dalam memasok zat makanan.

· Perkenalkan pemberian hay/rumput sejak pedet berumur 2 – 3 minggu. Berikan rumput yang berkualitas baik yang bertekstur halus.

· Jangan memberikan silase pada pedet (sering berjamur), selain itu pedet belum bisa memanfaatkan asam dan NPN yang banyak terdapat dalam silase.

· Konsumsi hijauan harus mulai banyak setelah memasuki fase penyapihan.

(Sumber: Balai Embrio Ternak)

Sabtu, 06 Maret 2010

Desmodium rensonii

Rensonii seed is hard and small, about 500,000/kilogram. Seed color varies from brown and yellowish-brown through green. Large shiny-brown seeds demonstrate the best germination and growth. Seed germinates quickly, in 3-4 days, without treatment (MBRLC undated, Roshetko 1995). Rensonii is often established by direct sowing in double hedgerow systems. Spacing between double rows is 50 cm. Depending on percent slope and companion crops, distance between hedgerows varies from 24 meters; in row spacing varies from 10 to 2.5 cm. A pinch of seed between the thumb and one finger is sufficient to establish one meter of hedgerow with an in row spacing of 2.5 cm. Close spacing promotes leafy biomass production (for fodder or green manure) and soil erosion control, while still yielding good quantities of seed. It is necessary to coordinate pruning of hedgerows with the plant's biological seed production cycle, or preserve unpruned areas of the hedgerow especially for seed production. 

Establishment of a seed orchard is recommended for maximum seed production. Trees are planted at a 2x2 m spacing by sowing 2-3 seed per position. After two weeks thin seedlings to one per position. Initial growth may be slow. As germinants and small seedlings, Desmodium species are particularly sensitive to weed competition (Roshetko et al. 1993). It is important to practice thorough weed control until trees are well established. Once established, rensonii will dominate most weed vegetation. 

Seven months after establishment plants will produce seed, however quantity and quality of this first crop are low. Plants will be in full seed production by the second year. Seed yields will increase as the plants become larger. Seed is mature when pods turn brown. Green pods produce inferior seed. Pods should be harvested when 80% are brown. Harvest by hand stripping brown pods from branches. Use the least force necessary to remove mature pods. Green pods should remain on the branch to mature for subsequent harvest. Hand harvesting allows four seed crops per year. Harvesting pods with a knife by removing foliage or branches reduces subsequent seed crops. 

After harvest, sun dry pods for 2-3 days. To extract seed, pound pods with a mortar and pestle and separate debris by winnowing. Sun dry clean seeds for another 2-3 days or until moisture content is 10-12% (MBRLC undated). Clean seed can be stored -for-two years in air-tight containers. To guard against insect and fungal attack treat 3 kilograms of seed with 1 teaspoon of Sevin insecticide and 1 teaspoon of Captan fungicide (MBRLC undated). Seed should be stored in a cool dry place removed from direct light. On a fertile site, a well-maintained ten-meter double hedgerow can produce 3.5 kilograms of seed per year

ALFALFA

Alfalfa (Medicago sativa) is a flowering plant in the pea family Fabaceae cultivated as an important forage crop. In the UK, Australia, South Africa and New Zealand it is known as lucerne and as lucerne grass in south Asia. It resembles clover with clusters of small purple flowers.

Ecology

Alfalfa is a cool season perennial legume living from three to twelve years, depending on variety and climate. The plant grows to a height of up to 1 metre (3 ft), and has a deep root system sometimes stretching to 4.5 metres (15 ft). This makes it very resilient, especially to droughts. It has a tetraploid genome.

This plant exhibits autotoxicity, which means that it is difficult for alfalfa seed to grow in existing stands of alfalfa. Therefore, it is recommended that alfalfa fields be rotated with other species (for example, corn or wheat) before reseeding.
[edit]
Culture

Alfalfa is one of the most important legumes used in agriculture. It is widely grown throughout the world as forage for cattle, and is most often harvested as hay, but can also be made into silage, grazed, or fed as greenchop. Alfalfa has the highest feeding value of all common hay crops, being used less frequently as pasture. When grown on soils where it is well-adapted, alfalfa is the highest yielding forage plant.

Its primary use is as feed for dairy cattle—because of its high protein content and highly digestible fiber—and secondarily for beef cattle, horses, sheep, and goats. Humans also eat alfalfa sprouts in salads and sandwiches. Tender shoots are eaten in some places as a leaf vegetable. Human consumption of fresh mature plant parts is rare and limited primarily by alfalfa's high fiber content. Dehydrated alfalfa leaf is commercially available as a dietary supplement in several forms, such as tablets, powders and tea. Alfalfa is believed by some to be a galactagogue, a substance that induces lactation.

Like other legumes its root nodules contain bacteria, Sinorhizobium meliloti, with the ability to fix nitrogen, producing a high-protein feed regardless of available nitrogen in the soil. Its nitrogen-fixing abilities (which increases soil nitrogen) and its use as an animal feed greatly improved agricultural efficiency. (The nitrogen comes from the air, which is 78 percent molecular nitrogen.)

Alfalfa can be sown in spring or fall, and does best on well-drained soils with a neutral pH of 6.8 – 7.5. Alfalfa requires a great deal of potassium to grow well. It is moderately sensitive to salt levels in both the soil and in irrigation water, although it continues to be grown in the arid southwestern United States where salinity is an emerging issue. Soils low in fertility should be fertilized with manure or a chemical fertilizer, but correction of pH is particularly important. Usually a seeding rate of 13 – 20 kg/hectare (12 – 25 lb/acre) is recommended, with differences based upon region, soil type, and seeding method. A nurse crop is sometimes used, particularly for spring plantings, to reduce weed problems. Herbicides are sometimes used in place of the nurse crop, particularly in Western production.

In most climates alfalfa is cut three to four times a year but is harvested up to 12 times per year in Arizona and southern California. Total yields are typically around 8 tonnes per hectare (4 short tons per acre) but yields have been recorded up to 20 t/ha (16 short tons per acre). Yields vary with region, weather, and the crop's stage of maturity when cut. Later cuttings improve yield but reduce nutritional content.
 
Alfalfa leafcutter bee, Megachile rotundata, a pollinator on alfalfa flower

Alfalfa is considered an 'insectary' due to the large number of insects it attracts. Some pests such as Alfalfa weevil, aphids, armyworms, and the potato leafhopper can reduce alfalfa yields dramatically, particularly with the second cutting when weather is warmest. Chemical controls are sometimes used to prevent this. Alfalfa is also susceptible to root rots including Phytophthora, Rhizoctonia, and Texas Root Rot.
Main article: List of alfalfa diseases
[edit]
Harvesting
 
Cylindrical bales of alfalfa

When alfalfa is to be used as hay, it is usually cut and baled. Loose haystacks are still used in some areas, but bales are easier to transport and store. Ideally, the first cutting should be taken at the bud stage and the subsequent cuttings just as the field is beginning to flower, or one tenth bloom for the reason that carbohydrates are at their highest. When using farm equipment rather than hand-harvesting, a swather cuts the alfalfa and arranges it in windrows. In areas where the alfalfa does not immediately dry out on its own, a machine known as a mower-conditioner is used to cut the hay. The mower-conditioner has a set of rollers or flails that crimp and break the stems as they pass through the mower, making the alfalfa dry faster. After the alfalfa has dried, a tractor pulling a baler collects the hay into bales.

There are several types of bales commonly used for alfalfa. For small animals and individual horses, the alfalfa is baled into small two string bales commonly named by the strands of string used to wrap the bale smallest two string, three string, and so on up to half ton bales six string "square" bales — actually rectangular, and typically about 40 x 45 x 100 cm (14 in x 18 in x 38 in). Small square bales weigh from 25 – 30 kg (50 – 70 pounds) depending on moisture, and can be easily hand separated into "flakes". Cattle ranches use large round bales, typically 1.4 to 1.8 m (4 to 6 feet) in diameter and weighing from 500 to 1,000 kg, (1000 to 2000 lbs). These bales can be placed in stable stacks or in large feeders for herds of horses, or unrolled on the ground for large herds of cattle. The bales can be loaded and stacked with a tractor using a spike, known as a bale spear, that pierces the center of the bale. Or they can be handled with a grapple (claw) on the tractor's front-end loader. A more recent innovation is large "square" bales, roughly the same proportions as the small squares, but much larger. The bale size was set so that stacks would fit perfectly on a large flatbed truck. These are more common in the western United States.

When used as feed for dairy cattle alfalfa is often made into haylage by a process known as ensiling. Rather than drying it to make dry hay, the alfalfa is chopped finely and fermented in silos, trenches, or bags, anywhere where the oxygen supply can be limited to promote fermentation. The anaerobic fermentation of alfalfa allows it to retain high nutrient levels similar to those of fresh forage, and is also more palatable to dairy cattle than dry hay. In many cases, alfalfa silage is inoculated with different strains of microorganisms to improve the fermentation quality and aerobic stability of the silage.

retail size for hay Bale sizes: Bale size: 3 string 100 # to 140# to 140# 22” x 15” x 44” Bale size: 2 string 40 # to 75 # 19” x 16” x 36” One ton bales: 2000# 4’ x 4’ x 8’ Half ton bales: 1000# 3’ x 4’ x 6’ Round bales: 850 to 1100# 4x4 or 4x5
[edit]
Worldwide production

Alfalfa is the most cultivated legume in the world. Worldwide production was around 454 million tons in 2002 (FAO). The US is the largest alfalfa producer in the world, but considerable area is found in Argentina (primarily grazed), Australia, South Africa, and the Middle East.

Within the United States, the leading alfalfa growing states are California, South Dakota, and Wisconsin. The upper Midwestern states account for about 50% of US production, the Northeastern states 10%, the Western states 40%, and the Southeastern states almost none. Alfalfa has a wide range of adaptation and can be grown from very cold northern plains to high mountain valleys, from rich temperate agricultural regions to Mediterranean climates and searing hot deserts.
[edit]
Alfalfa and bees

Alfalfa seed production requires the presence of pollinators when the fields of alfalfa are in bloom. Alfalfa pollination is somewhat problematic, however, because Western honey bees, the most commonly used pollinator, are not suitable for this purpose; the pollen-carrying keel of the Alfalfa flower trips and strikes pollinating bees on the head, which helps transfer the pollen to the foraging bee. Western honey bees, however, do not like being struck in the head repeatedly and learn to defeat this action by drawing nectar from the side of the flower. The bees thus collect the nectar but carry no pollen and so do not pollenate the next flower they visit.[2] Because older, experienced bees don't pollinate alfalfa well, most pollination is accomplished by young bees that have not yet learned the trick of robbing the flower without tripping the head-knocking keel. When western honey bees are used to pollinate alfalfa, the beekeeper stocks the field at a very high rate to maximize the number of young bees.

Today the alfalfa leafcutter bee is increasingly used to circumvent this problem. As a solitary but gregarious bee species, it does not build colonies or store honey, but is a very efficient pollinator of alfalfa flowers. Nesting is in individual tunnels in wooden or plastic material, supplied by the alfalfa seed growers.[2] The leafcutter bees are used in the Pacific Northwest, while western honeybees dominate in California alfalfa seed production.

A smaller amount of alfalfa produced for seed is pollinated by the alkali bee, mostly in the northwestern United States. It is cultured in special beds near the fields. These bees also have their own problems. They are not portable like honey bees; and when fields are planted in new areas, the bees take several seasons to build up.[2] Honey bees are still trucked to many of the fields at bloom time.
[edit]
Varieties
 
Small square bales of alfalfa

Considerable research and development has been done with this important plant. Older cultivars such as 'Vernal' have been the standard for years, but many better public and private varieties are now available and better adapted to particular climates. Private companies release many new varieties each year in the US.

Most varieties go dormant in the fall, with reduced growth in response to low temperatures and shorter days. 'Non-dormant' varieties that grow through the winter are planted in long-seasoned environments such as Mexico, Arizona, and Southern California, whereas 'dormant' varieties are planted in the Upper Midwest, Canada, and the Northeast. 'Non-dormant' varieties can be higher yielding, but they are susceptible to winter-kill in cold climates and have poorer persistence.

Most alfalfa cultivars contain genetic material from Sickle Medick (M. falcata), a wild variety of alfalfa that naturally hybridizes with M. sativa to produce Sand Lucerne (M. sativa ssp. varia). This species may bear either the purple flowers of alfalfa or the yellow of sickle medick, and is so called for its ready growth in sandy soil.
 
Watering an alfalfa field

Most of the improvements in alfalfa over the last decades have consisted of better disease resistance on poorly drained soils in wet years, better ability to overwinter in cold climates, and the production of more leaves. Multileaf alfalfa varieties have more than three leaflets per leaf, giving them greater nutritional content by weight because there is more leafy matter for the same amount of stem.

Modern alfalfa varieties have probably a wider range of insect, disease, and nematode resistance than many other agricultural species. The North American Alfalfa Improvement Conference records new varieties and encourages communication between breeders.

Roundup Ready alfalfa is a genetically modified variety, patented by Monsanto Company, that is resistant to Monsanto's glyphosate. Although most broadleaf plants, including ordinary alfalfa, are sensitive to Roundup, growers can spray fields of Roundup Ready alfalfa with Roundup, and so kill the weeds without harming the alfalfa crop. Roundup Ready alfalfa was sold in the United States from 2005-2007 and more than 300,000 acres (1,200 km2) were planted with it, out of 21,000,000 acres (85,000 km2). However, in May 2007, the California Northern District Court issued an injunction order prohibiting farmers from planting Roundup Ready alfalfa until the US Department of Agriculture (USDA) completed a study on the genetically engineered crop's likely environmental impact. In response, the USDA put a hold on any further planting of Roundup Ready alfalfa. The key issues of the lawsuit were the possibility that Roundup Resistance could be transmitted to other plants, including both other crops and weeds, making major pest species resistant to an important herbicide, Roundup. The Supreme Court has recently granted a Petition for a Writ of Certiorari so stay tuned for more developments on this important legal front.

The California Alfalfa Workgroup [1] (UC Davis) has an up to date listing of Alfalfa Variety Trial Data [2] by location as well as Agronomy Progress Reports for each year.
[edit]
Phytoestrogens in alfalfa

Alfalfa, like other leguminous crops, is a known source of phytoestrogens.[3] Grazing on alfalfa has been suspected as a cause of reduced fertility in sheep.
[edit]
Medical Uses

Alfalfa has been used as an herbal medicine for over 1,500 years. Alfalfa is high in protein, calcium, plus other minerals, vitamins in the B group, vitamin C, vitamin E, and vitamin K.
[edit]
Traditional Uses

In early Chinese medicines, physicians used young alfalfa leaves to treat disorders related to the digestive tract and the kidneys. In Ayurvedic medicine, physicians used the leaves for treating poor digestion. They made a cooling poultice from the seeds for boils. At the time, alfalfa was also believed to be helpful towards people suffering from arthritis and water retention.
(Source: Wikipedia)