Sabtu, 17 April 2010

Mulai "KRISIS" Pakan Ternak

Menjamurnya Feedlot Sapi di Indonesia mampu memenuhi kebutuhan daging secara Nasional, namun disisi lain menyisakan satu masalah krusial buat fedlotter itu sendiri. Masalah yang sangat penting dan urgent yaitu ketersediaan pakan ternak. 

Bahan-bahan limbah pertanian yang bisa dimanfaatkan untuk pakan ternak antara lain Onggok (bahan sisa/ampas dari pabrik tepung tapioka), kulit kopi, janggel jagung, ampas tahu, kulit kacang, jerami padi, pucuk tebu, gaplek, katul/dedak dll. Sedangkan bahan lain yang sengaja ditanam antara lain rumput gajah, rumput raja (king grass), Tebon jagung (tanaman jagung yang ditanam khusus untuk pakan sapi), legume seperti alfalfa, desmodium rensonii dll.

Bahan dari limbah pertanian semisal onggok sangat bergantung pada pabrik/produsen tepung dalam hal kapasitas produksinya. Lebih kurang sepuluh tahun yang lalu, onggok adalah hanya dianggap limbah alias barang tidak berharga dari hasil samping pengolahan tepung dan tentu saja tidak ada harganya alias dipandang sebelah mata. Saat itu onggok bisa didapatkan secara gratis. Bandingkan dengan saat ini ketika begitu banyak feedlot membutuhkannya, harga onggok per kilogram bahkan mencapai Rp 1000/kg. Bayangkan jika satu feedlot membutuhkan onggok untuk pakan sapinya sampai 30%-40% dari keseluruhan bahan pakan yang digunakan. Bila diasumsikan satu feedlot kapasitas 5000 ekor dengan kebutuhan pakan perhari 12 kg per ekor sapi maka untuk 5000 ekor dibutuhkan pakan/ration sebanyak 60.000 kg. jika kebutuhan onggok 40% maka dalam sehari dibutuhkan sebanyak  24.000 kg yang senilai dengan Rp 24.000.000.

Tahun 2009 sapi import masuk ke Indonesia lebih dari 600.000 ekor, bisa dibayangkan berapa banyak pakan yang dibutuhkan. Tidaklah mengherankan jika saat ini untuk terjun ke usaha penggemukan sapi haruslah pintar-pintar bermain "pakan/ration" dan harus mahir melobi suplier agar suplly bahan pakan bisa tetap kontinu. Krisis bahan baku pakan mulai terasa ketika jumlah feedlot dengan kapasitas pemeliharaan ribuan ekor semakin banyak bermunculan. Bertambahnya populasi sapi tidak diimbangi dengan bertumbuhnya pabrik tepung tapioka misalnya, sehingga produk samping yang berupa onggok tidak mencukupi yang hasilnya harga onggok terus naik tapi barangnya juga langka.

Ulasan diatas hanya dimaksudkan untuk membuka mata kita bahwa sudah saatnya dicari alternatif-alternatif lain untuk bahan baku pakan sapi terutama yang banyak tersedia di negara tropis seperti Indonesia ini. Dibandingkan dengan Australia yang memiliki banyak padang rumput penggembalaan tentunya dalam hal pakan biayanya jauh lebih murah dari negara kita yang kadang untuk suply bahan baku pakan harus diambil di tempat yang jaraknya sampai ratusan bahkan ribuan kilometer yang tentunya membutuhkan biaya transport yang tidak murah.

Apabila ditahun 2010 ini import sapi dari Australia tetap melampaui angka 600.000 ekor setahun maka bisa dipastikan "krisis" bahan baku pakan sapi akan lebih parah, tidak hanya onggok tapi juga bahan baku pakan lainnya.

2 komentar:

  1. saya punya pengolahan onggok tapi saya kurang menguasai pasar, mohon sarannya..terima kasih...

    BalasHapus
  2. Posisi anda dimana? berapa ton stock/produksinya? bila memungkinkan akan saya hubungkan langsung ke pembeli yang mampu beli dalam jumlah berapapun...

    BalasHapus